Namaku,
Halmahera. Teman-teman biasa memanggilku Ama. Di sekolah aku cukup populer,
dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan segudang prestasi yang cukup
membanggakan. Aku juga banyak dikenal dan disukai oleh para guru. Menurut
mereka, aku murid yang penuh antusias dan sangat aktif dalam kegiatan intra
ataupun ekstra. Meski demikian sebenarnya aku tak memiliki banyak teman dekat.
Lain halnya dengan Tasya. Si cerewet yang satu ini memiliki banyak sahabat, dia
disukai banyak teman karena tingkahnya yang supel dan menyenangkan. Tak hanya
sampai disitu, Tasya pun selalu nyaris menyaingi prestasiku. Jika aku mendapat
juara 1, maka dapat dipastikan ialah juara 2 nya. Dan seperti itu pula, saat
guru-guru memilih aku dan Tasya sebagai kandidat calon ketua OSIS. Dari 8
kelas, dari 10 orang pendaftar, entah mengapa hanya aku dan Tasya yang
terjaring. Jujur, menjadi ketua OSIS bukan ambisiku tapi jika sudah dihadapkan
pada tahap maju atau mundur, aku paling tidak suka mengatakan mundur. Sejak
saat itu, aku bertekad untuk memenangkan pemilihan ketuas OSIS dengan cara
sportif. Aku tidak suka kecurangan, sekecil apa pun itu. Dan Tasya, meski ia
adalah rivalku, aku tetap lebih nyaman menganggapnya sebagai teman baik.
Setidaknya aku bisa berbagi apa yang aku tahu, dan apa yang aku pikir benar.
Hingga
suatu hari, sehabis ulangan tanpa sengaja aku menemukan kertas contekan di laci
meja milik Tasya. Aku sempat bingung dengan secarik kertas itu. Tulisan itu
jelas aku kenal, itu tulisan Tasya. Namun aku juga tak berani menuduh. Kalau
catatan itu bukan dimaksudkan untuk menyontek, lantas mengapa catatan itu
dibuat sekecil mungkin? Tanya ku dalam hati.
Keesokan
harinya saat sedang ulangan matematika, aku menoleh ke arah Tasya. Tak sengaja,
aku melihat Tasya mengambil sesuatu dari laci mejanya, dan BINGO! Dugaanku
sebelumnya adalah benar. Tasya menyontek.
Saat
itu entah mengapa perasaanku pada Tasya berubah. Aku balik tidak menyukainya.
Bagaimana mungkin Tasya melakukan kecurangan seperti itu? Murid sekelas Tasya
menyontek, itu merupakan hal yang memalukan pikirku. Entah mengapa aku merasa
dicurangi. Aku belajar keras untuk mendapat nilai terbaikku, sedang ia malah
mendapatkannya dengan cara yang sangat mudah. Sejak saat itu, aku tak pernah
mau banyak berbicara dengan Tasya. Aku juga merasa Tasya bukan teman baikku.
Teman baik tidak mungkin mencurangi temannya. Ia juga bukan rival yang pantas
untukku.
Hingga
waktu pemilihan tiba, Tasya sempurna terpilih sebagai ketua OSIS dengan suara
mencapi 55%. Aku yang paling tidak suka basa-basi lebih memilih diam tak
berkomentar.
“Kamu nggak akan ngucapin selamat
buat aku, Ma?” tanya Tasya padaku.
“Selamat ya Tasya, semoga kamu
bisa jadi ketua OSIS yang baik.”
“Makasih ya Ma, aku harap kali ini kamu nggak keberatan aku kalahin.”
“Makasih ya Ma, aku harap kali ini kamu nggak keberatan aku kalahin.”
“Sejak kapan aku keberatan kamu
kalahin? Kalau kamu mau dan mampu, silahkan.” Tasya menatapku dengan tatapan
tidak suka dan begitu tatapanku padanya, penuh rasa ketidak sukaan.
“Kalau aku mau, aku pasti udah
kalahin kamu dari sejak lama Ma.”
“Oya? Hehehe jadi sebenarnya kamu
mampu ngalahin aku gitu?Baguslah kalau begitu ayo buktiin. Buktiin kalau kamu
mampu ngalahin aku tentu dengan cara yang pantas dan sportif, ketua presiden
OSIS yang terhormat.”
Waktu berlalu, saat hendak di
bagi raport, tanpa sengaja beberapa teman perempuan tengah asik memperbincangkan
sesuatu.
“Menurut kamu, semester ini siapa
yang akan juara di kelas?” tanya seorang berambut panjang.
“Siapa lagi kalau bukan si
sombong Ama.”
“Ah, mana mungkin! Aku yakin si
Ama kalah sama si Tasya.”
“Kok kamu mikir gitu?”
“Ya iyalah, si Ama boleh lebih
cerdas. Tapi si Tasya itu jauh lebih cerdik.”
“Iya sih kalau itu aku tahu. Yang
satu cerdas tapi belagu. Yang satu nggak belagu tapi cerdik alias cerdas dan
licik.”
“Hahaha.. iya kamu bener
dua-duanya nggak ada yang mending.”
“Iya tapi seenggaknya lah si
Tasya itu masih mau berbagi jawaban sama kita, nggak kaya si sombong Ama.”
“Iya bener setidaknya kita masih
bisa kecipratan untung sama si Tasya.”
Aku
terpaku di tempat mendengar kalimat-kalimat itu. Selama ini aku tidak pernah
menyangka bahwa penilaian teman-teman tentang aku adalah si sombong.
Ya
aku memang tidak begitu suka keramaian, aku tidak suka ikut pergi acara
kongkow-kongkow, party atau semacamnya. Aku cenderung acuh dengan teman-teman
yang hanya akan baik ketika ada butuhnya saja, aku juga cenderung tidak suka
banyak berbicara jika bukan di lingkunganku. Aku akui temanku rata-rata anak
orang kaya, anak-anak dengan prestasi cemerlang. Di saat jam istirahat, aku
lebih suka berada di perpus, ketimbang ngerumpi bersama mereka. Di saat tidak
ada guru di kelas, aku lebih senang memasang earphone dan mengerjakan
latihan-latihan soal dari pada nimbrung dan berbincang-bincang dengan mereka.
Aku juga paling tidak suka memberi contekan. Namun aku tidak pernah menyangka
bahwa aku akan dianggap sombong oleh teman-temanku. Dan lebih tragis lagi
nampaknya mereka lebih berpihak pada si licik daripada si sombong. Ya memang kalau mengikuti aturan langit,
kesombongan sebesar biji zarah akan menyebabkan si sombong tidak akan pernah
mencium bau surga. Namun jika mengikuti aturan bumi, tidak satupun orang
sombong yang dikenai hukuman pidana lain halnya dengan si licik. Kesombongan
bukan tindakan kriminal seperti kelicikan tapi mengapa kesombongan lebih mereka
benci dari pada kelicikan. Bahkan saat mereka dihadapkan dengan pilihan
pemimpin, mereka lebih senang dipimpin oleh si licik dari pada si sombong. Si
sombong yang malang.
Saat aku sibuk dengan pemikiranku, tanpa
sepengetahuanku, Tasya pun mendengarkan apa yang aku dengarkan dari mulut
2 orang itu.
“Sepertinya menjadi si sombong
itu jauh lebih baik ya Ma dari pada si licik.”
Aku mengerutkan keningku tak
mengerti. Bukannya jelas menjadi si sombong itu tidak banyak yang menyukai?
“Setidaknya si sombong tidak akan
pernah merasa dirinya dimanfaatkan dan dibodohi.”
Aku kembali terdiam mencerna
kalimat-kalimat Tasya.
“Aku tidak menyangka orang yang
aku anggap teman, bisa dengan sadis mengatakan bahwa aku si licik yang bisa
dimanfaatkan.”
“Sudahlah Tas, aku juga si
sombong yang tidak punya banyak teman kok. Setidaknya biarpun tampak dibodohi
dan dimanfaatkan, kamu masih punya teman, anggap lah itu sebagai harga sebuah
pertemanan.”
Tasya termenung di depanku. Dalam
diam aku mengakui, pertemanan aku dan Tasya cukup menarik untuk dikisahkan. Dan
di hari berikutnya, aku dan Tasya menjadi teman baik yang benar-benar baik.
Kami tak sungkan saling mengkoreksi dan mengingatkan. Tak ada yang sempurna,
baik aku atau pun Tasya pada akhirnya berusaha untuk lebih baik.
Tasya menghentikan kebiasaannya
menyontek, sedang aku berusaha lebih ramah dan terbuka kepada yang lainnya.
“Jangan pernah menjadi si licik
yang bisa dimanfaatkan! Karena kenyataannya kelicikan ga pernah bikin kamu
lebih hebat dari aku. Kamu hanya berhasil membohongi orang lain tapi tidak
dengan diri kamu.”
“Dan kamu juga jangan jadi si
sombong yang dibenci! Karena kenyataannya tidak memiliki teman itu jauh lebih
menyedihkan dari pada tidak memiliki prestasi.”
“Setidaknya aku ga dimanfaatin,
Tas.”
“Dan setidaknya aku ga kesepian.”
“Hahaha yaa, kalau gitu mari kita
berubah jadi si cerdas yang ga sombong dan ga licik. Sepakat?”
“Sepakat.”
10 tahun setelah hari itu, Tasya
menjadi seorang dokter cantik, muda dan menarik. Tentu dengan pesona kecerdasan
dan kelembutan yang jauh dari kesan licik. Dan aku tumbuh menjadi seorang jaksa
muda, menarik dan penuh wibawa yang
menurut Tasya aku adalah jaksa yang penuh dengan dedikasi.
-Tamat-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar