Senin, 23 Februari 2015

Si Sombong dan Si Licik



            Namaku, Halmahera. Teman-teman biasa memanggilku Ama. Di sekolah aku cukup populer, dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan segudang prestasi yang cukup membanggakan. Aku juga banyak dikenal dan disukai oleh para guru. Menurut mereka, aku murid yang penuh antusias dan sangat aktif dalam kegiatan intra ataupun ekstra. Meski demikian sebenarnya aku tak memiliki banyak teman dekat. Lain halnya dengan Tasya. Si cerewet yang satu ini memiliki banyak sahabat, dia disukai banyak teman karena tingkahnya yang supel dan menyenangkan. Tak hanya sampai disitu, Tasya pun selalu nyaris menyaingi prestasiku. Jika aku mendapat juara 1, maka dapat dipastikan ialah juara 2 nya. Dan seperti itu pula, saat guru-guru memilih aku dan Tasya sebagai kandidat calon ketua OSIS. Dari 8 kelas, dari 10 orang pendaftar, entah mengapa hanya aku dan Tasya yang terjaring. Jujur, menjadi ketua OSIS bukan ambisiku tapi jika sudah dihadapkan pada tahap maju atau mundur, aku paling tidak suka mengatakan mundur. Sejak saat itu, aku bertekad untuk memenangkan pemilihan ketuas OSIS dengan cara sportif. Aku tidak suka kecurangan, sekecil apa pun itu. Dan Tasya, meski ia adalah rivalku, aku tetap lebih nyaman menganggapnya sebagai teman baik. Setidaknya aku bisa berbagi apa yang aku tahu, dan apa yang aku pikir benar.
            Hingga suatu hari, sehabis ulangan tanpa sengaja aku menemukan kertas contekan di laci meja milik Tasya. Aku sempat bingung dengan secarik kertas itu. Tulisan itu jelas aku kenal, itu tulisan Tasya. Namun aku juga tak berani menuduh. Kalau catatan itu bukan dimaksudkan untuk menyontek, lantas mengapa catatan itu dibuat sekecil mungkin? Tanya ku dalam hati.
            Keesokan harinya saat sedang ulangan matematika, aku menoleh ke arah Tasya. Tak sengaja, aku melihat Tasya mengambil sesuatu dari laci mejanya, dan BINGO! Dugaanku sebelumnya adalah benar. Tasya menyontek.
            Saat itu entah mengapa perasaanku pada Tasya berubah. Aku balik tidak menyukainya. Bagaimana mungkin Tasya melakukan kecurangan seperti itu? Murid sekelas Tasya menyontek, itu merupakan hal yang memalukan pikirku. Entah mengapa aku merasa dicurangi. Aku belajar keras untuk mendapat nilai terbaikku, sedang ia malah mendapatkannya dengan cara yang sangat mudah. Sejak saat itu, aku tak pernah mau banyak berbicara dengan Tasya. Aku juga merasa Tasya bukan teman baikku. Teman baik tidak mungkin mencurangi temannya. Ia juga bukan rival yang pantas untukku.
            Hingga waktu pemilihan tiba, Tasya sempurna terpilih sebagai ketua OSIS dengan suara mencapi 55%. Aku yang paling tidak suka basa-basi lebih memilih diam tak berkomentar.
“Kamu nggak akan ngucapin selamat buat aku, Ma?” tanya Tasya padaku.
“Selamat ya Tasya, semoga kamu bisa jadi ketua OSIS yang baik.”
“Makasih ya Ma, aku harap kali ini kamu nggak keberatan aku kalahin.”
“Sejak kapan aku keberatan kamu kalahin? Kalau kamu mau dan mampu, silahkan.” Tasya menatapku dengan tatapan tidak suka dan begitu tatapanku padanya, penuh rasa ketidak sukaan.
“Kalau aku mau, aku pasti udah kalahin kamu dari sejak lama Ma.”
“Oya? Hehehe jadi sebenarnya kamu mampu ngalahin aku gitu?Baguslah kalau begitu ayo buktiin. Buktiin kalau kamu mampu ngalahin aku tentu dengan cara yang pantas dan sportif, ketua presiden OSIS yang terhormat.”

Waktu berlalu, saat hendak di bagi raport, tanpa sengaja beberapa teman perempuan tengah asik memperbincangkan sesuatu.
“Menurut kamu, semester ini siapa yang akan juara di kelas?” tanya seorang berambut panjang.
“Siapa lagi kalau bukan si sombong Ama.”
“Ah, mana mungkin! Aku yakin si Ama kalah sama si Tasya.”
“Kok kamu mikir gitu?”
“Ya iyalah, si Ama boleh lebih cerdas. Tapi si Tasya itu jauh lebih cerdik.”
“Iya sih kalau itu aku tahu. Yang satu cerdas tapi belagu. Yang satu nggak belagu tapi cerdik alias cerdas dan licik.”
“Hahaha.. iya kamu bener dua-duanya nggak ada yang mending.”
“Iya tapi seenggaknya lah si Tasya itu masih mau berbagi jawaban sama kita, nggak kaya si sombong Ama.”
“Iya bener setidaknya kita masih bisa kecipratan untung sama si Tasya.”
            Aku terpaku di tempat mendengar kalimat-kalimat itu. Selama ini aku tidak pernah menyangka bahwa penilaian teman-teman tentang aku adalah si sombong.
            Ya aku memang tidak begitu suka keramaian, aku tidak suka ikut pergi acara kongkow-kongkow, party atau semacamnya. Aku cenderung acuh dengan teman-teman yang hanya akan baik ketika ada butuhnya saja, aku juga cenderung tidak suka banyak berbicara jika bukan di lingkunganku. Aku akui temanku rata-rata anak orang kaya, anak-anak dengan prestasi cemerlang. Di saat jam istirahat, aku lebih suka berada di perpus, ketimbang ngerumpi bersama mereka. Di saat tidak ada guru di kelas, aku lebih senang memasang earphone dan mengerjakan latihan-latihan soal dari pada nimbrung dan berbincang-bincang dengan mereka. Aku juga paling tidak suka memberi contekan. Namun aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan dianggap sombong oleh teman-temanku. Dan lebih tragis lagi nampaknya mereka lebih berpihak pada si licik daripada si sombong.      Ya memang kalau mengikuti aturan langit, kesombongan sebesar biji zarah akan menyebabkan si sombong tidak akan pernah mencium bau surga. Namun jika mengikuti aturan bumi, tidak satupun orang sombong yang dikenai hukuman pidana lain halnya dengan si licik. Kesombongan bukan tindakan kriminal seperti kelicikan tapi mengapa kesombongan lebih mereka benci dari pada kelicikan. Bahkan saat mereka dihadapkan dengan pilihan pemimpin, mereka lebih senang dipimpin oleh si licik dari pada si sombong. Si sombong yang malang.  
            Saat aku sibuk dengan pemikiranku, tanpa sepengetahuanku, Tasya pun mendengarkan apa yang aku dengarkan dari mulut 2  orang itu.
“Sepertinya menjadi si sombong itu jauh lebih baik ya Ma dari pada si licik.”
Aku mengerutkan keningku tak mengerti. Bukannya jelas menjadi si sombong itu tidak banyak yang menyukai?
“Setidaknya si sombong tidak akan pernah merasa dirinya dimanfaatkan dan dibodohi.”
Aku kembali terdiam mencerna kalimat-kalimat Tasya.
“Aku tidak menyangka orang yang aku anggap teman, bisa dengan sadis mengatakan bahwa aku si licik yang bisa dimanfaatkan.”
“Sudahlah Tas, aku juga si sombong yang tidak punya banyak teman kok. Setidaknya biarpun tampak dibodohi dan dimanfaatkan, kamu masih punya teman, anggap lah itu sebagai harga sebuah pertemanan.”
Tasya termenung di depanku. Dalam diam aku mengakui, pertemanan aku dan Tasya cukup menarik untuk dikisahkan. Dan di hari berikutnya, aku dan Tasya menjadi teman baik yang benar-benar baik. Kami tak sungkan saling mengkoreksi dan mengingatkan. Tak ada yang sempurna, baik aku atau pun Tasya pada akhirnya berusaha untuk lebih baik.
Tasya menghentikan kebiasaannya menyontek, sedang aku berusaha lebih ramah dan terbuka kepada yang lainnya.
“Jangan pernah menjadi si licik yang bisa dimanfaatkan! Karena kenyataannya kelicikan ga pernah bikin kamu lebih hebat dari aku. Kamu hanya berhasil membohongi orang lain tapi tidak dengan diri kamu.”
“Dan kamu juga jangan jadi si sombong yang dibenci! Karena kenyataannya tidak memiliki teman itu jauh lebih menyedihkan dari pada tidak memiliki prestasi.”
“Setidaknya aku ga dimanfaatin, Tas.”
“Dan setidaknya aku ga kesepian.”
“Hahaha yaa, kalau gitu mari kita berubah jadi si cerdas yang ga sombong dan ga licik. Sepakat?”
“Sepakat.”
10 tahun setelah hari itu, Tasya menjadi seorang dokter cantik, muda dan menarik. Tentu dengan pesona kecerdasan dan kelembutan yang jauh dari kesan licik. Dan aku tumbuh menjadi seorang jaksa muda, menarik dan penuh wibawa  yang menurut Tasya aku adalah jaksa yang penuh dengan dedikasi.
-Tamat-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar