Jumat, 27 Februari 2015

Mengeluh itu Nggak Banget



Kantin ramai seperti biasanya. Di pojok sebelah kanan, tepat disamping jendela Rani dan ketiga teman lainnya sedang asik berbincang. Sambil menyantap hidangan makan siang, mereka tak henti-hentinya membicarakan rencana liburan akhir semester yang tinggal menghitung hari. Tak selang beberapa lama, Ayu menghampiri ke-empat temannya dengan wajah memberenggut.
“Bete deh gue, masa iya tadi tuh ya Si Riko nyenggol gue ampe jatuh. Gue kan malu dilihat sama anak-anak kelas X.” Sahut Ayu tiba-tiba.
“Ah mungkin ga sengaja kali Yu.” Timpal Nita berusaha menenangkan.
“Iya tapi tetap aja kalau jalan tuh dia harusnya pake mata, lagian suruh siapa sih dia lari-lari di koridor sekolah.”
“Ya udah loe maafin aja, Tuhan aja Maha Pemaaf masa kita hamba-Nya ga mau maafin orang sih Yu.” Akhirnya Rani buka suara yang langsung disetujui oleh tiga teman lainnya yang kebetulan tadi sedang asik mengobrol.
“Ah, loe sih gampang ngomong gitu soalnya loe ga ngerasain. Coba kalau loe jadi gue.” Ayu masih saja memberenggut dengan mukannya yang masam. Tak lamabel pun berbunyi menandakan waktu istirahat sudah berakhir. Masing-masing dari mereka berhamburan menuju kelas. Di sisa jam terakhir, Ayu melirik Rani teman sebangkunya.
“Gue bete deh, pelajaran Bu Isma itu pasti bikin ngantuk.”
Tanpa banyak basa-basi Rani menyodorkan permen yang ada di sakunya dengan harapan Ayu akan berhenti mengeluh.
“Ah, nggak deh Ran. Gue ga suka permen kopi gini, ga enak.”
“Ya udah loe cuci muka aja sana.”
“Gue males. Cuci muka di toilet sekolah tuh bau, bikin gue pengen muntah.”
“Rani, Ayu kalian maju ke depan.” Tiba-tiba saja Bu Isma memanggil keduanya. Mereka diminta untuk menerangkan kembali apa yang mereka dapatkan hari ini. Sepertinya Bu Isma mendengar mereka mengobrol di kelas. Setelah keduanya menerangkan kembali, Bu Isma berpesan kepada keduanya untuk bisa menghargai orang yang tengah berbicara.
Sepulangnya dari sekolah, Ayu berjalan berdampingan dengan Rani yang kebetulan rumahnya saling berdekatan. Dalam hati Rani sudah merasa jengkel dengan sikap Ayu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
“Gue ga nyangka, guru kaya Bu Isma yang suaranya nyaris tak terdengar itu bisa juga ya marah dan mnghukum kita?” Sahut Ayu membuka pembicaraan.
Rani hanya diam tak berkomentar. Tiba-tiba Nita datang dari arah sebrang, dan dengan riang ia mengajak Ayu dan Rani untuk mampir ke rumahnya yang tak jauh dari sekolah.
“Aduh jalanannya panas banget, gue bingung kenapa ya bulan september gini belum musim hujan juga.”Keluh Ayu ketika tawaran itu datang seolah ia tengah menolak untuk diajak jalan kaki dan mampir ke rumah Nita.
“Ya loe kalau mau dingin pasang Ac berjalan aja.” Jawab Nita sembari membawa ranselnya.
“Gue mau Nit, ke rumah loe.” Jawab Rani seketika dengan maksud untuk menghindari Ayu. Mood sedang jelek, jadi ia tidak ingin memperparah moodnya dengan mendengarkan keluhan Ayu sepanjang jalan.
“Yaaah loe Ran, kan ini panas banget masa iya sih harus ke rumah Nita dulu. Kita pulang aja yuk?” desak Ayu pada Rani.
“Kalau loe ga mau ikut, loe bisa kok pulang duluan.” Jawab Rani cuek.
Keesokan harinya, saat Ayu memasuki kelas ia keheranan mendapati Rani yang sudah pindah duduknya di meja paling depan.
“Ran, kok loe pindah sih?”
“Gue mau duduk di depan.”
“Kenapa?”
Karena males banget kalau gue mesti dihukum lagi sama guru gara-gara dengerin keluhan loe yang ga ada ujungnya.
“Ran, kok loe malah ngelamun sih?”
“Nggak, gue ga ngelamun.”
“Ooh.. Ran, loe tahu ga ya gue bete banget tahu tadi pas naik angkot eh angkotnya malah ngetem. Lama banget, untung gue ga kesiangan.” Ceracau Ayu sambil memindahkan tasnya untuk duduk di sebelah Rani.
“Oya?”
“Iya, dan lebih nyebelin lagi pas tadi gue jalan gue ketemu si Riko di koridor. Dan dengan ekspresi innocent gitu dia nyapa gue.”
“Oya?”
“Iya, padahal gue masih berasa malunya gara-gara kemaren dia senggol ampe jatuh.”
Rani hanya diam tak menanggapi. Ekspresi mukanya datar seolah ingin menunjukan ketidak tertarikannya terhadap topik yang dibicarakan oleh Ayu. Sayangnya, Ayu tak menyadari itu. Ia kembali berbicara dengan keluhannya yang lain. Keluhan yang sebenarnya tak perlu ia keluhkan, keluhan yang membuatnya terlihat menyebalkan di hadapan teman-temannya.
 “Ran, pulang sekolah kita main yuk?”
“Nggak ah, Yu. Gue mau pulang ke rumah.”
“Please Ran.”
“Nggak Yu, gue mesti cepet pulang.”
“Gue bete deh sama loe, loe jadi gak asik sekarang-sekarang.” Ucap Ayu pada Rani ketus.
“Bukannya dari dulu loe selalu bete sama semua hal?” Jawab Rani balik sebal.
“Maksud loe?”
“Loe pikir aja sendiri.”
Ayu yang mendengar kalimat itu mendengus kesal berlalu meninggalkan kelas. Saat di halaman parkir, Ayu mendengar perbincangan Tia dan Nita.
“Iya Ti, kita langsung ke rumah Rani aja. Gue dengar papa Rani sakit stroke jadi buat menghibur dia, mending kita ke rumahnya aja langsung.”
“Iya, kita beli apa ya buat papanya Rani?”
“Papa Rani sakit?” Akhirnya Ayu menyela pembicaraan kedua temannya.
“Iya, emang loe ga tahu?” tanya Tia.
“Nggak, Rani ga pernah cerita.”
“Gimana Rani mau cerita, kalau loe sendiri lebih sibuk ngeluh.” Ucap Nita.
 “Sibuk ngeluh gimana maksud loe?” Tanya Rani dengan nada sewot.
“Loe tuh selalu sibuk ngeluh sama banyak hal. Bete inilah, bete itulah. Loe sibuk sama diri loe sendiri, seolah loe yang paling menderita di muka bumi ini. Padahal di luar sana, bahkan di samping loe, sahabat loe sendiri, punya masalah dan beban yang lebih berat dari loe.”
Ayu terhenyak mendengar kalimat temannya. Tia yang melihat raut wajah Ayu, langsung mendekatinya. “Udah loe jangan matung, mending ikut kita jenguk papanya Rani.”
Ayu manggut dan mengikuti langkah Nita dan Tia menjenguk papa Rani. Di rumah Rani, Ayu meminta maaf pada Rani. Meminta maaf untuk segala keegoisannya.
“Maafin gue ya Ran. Gue ga tahu, kalau ternyata loe punya beban yang lebih berat dari gue. Gue minta maaf buat keegoisan dan segala keluhan gue yang ga penting selama ini. Gue sadar, kenapa gue ga punya banyak teman. Karena gue selalu mengeluh dan lupa bersyukur. Lebih sering bilang, gue bete dibandingkan gue bersyukur.”
“Gak apa-apa Yu. Gue juga minta maaf ya karena selama ini gue ga pernah berani buat negur loe. Gue ga bisa jadi sahabat yang baik buat loe, mestinya gue ngingetin loe.”
“Udah-udah kalian jangan lebai, ah.” Sahut Nita
“Haha iya, kalian sok cantik banget.” Sahut Tia kemudian.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
"Harusnya dari awal gue bersyukur, karena gue punya kalian." ucap Ayu.
Bukankah sahabat yang baik itu sahabat yang selalu mengingatkan sahabatnya untuk senantiasa berada dalam kebaikan? Tidak ada manusia yang terlahir sempurna meski demikian, kita tetap memiliki kewajiban untu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Karena mengeluh bukan solusi, maka bersabar dan bersyukur menjadi jawabannya. 


Info Menarik 2015

Assalamu'alaikum... Teman-teman gimana kabarnya?
Sudah beberapa sessi ini komunitas NGABRINK menayangkan beberapa cerpen hasil karya original sahabat NGABRINK yang sebetulnya merupakan salah satu program dari KOMUNITAS NGABRINK sendiri yakni "SAHABAT PENA".
Nah, alhamdulillah pekan ini tanggal Minggu, 01 Maret 2015 @gd. Yudhistira Jl. Parabon III No.15 Bandung, bakalan launching lagi drama musikal yang tentunya asli original karya sahabat NGABRINK dengan judul "GANTENG-GANTENG BATU ALI."
Ini cerita luar biasa tentang sosok si ganteeeng TWISTAN yang harus berurusan dengan dua gadis cantik, lalu apa hubungannya dengan batu ali..?? Apa ya?? Apa cobaaaa??
Teman-teman penasaran ceritanya?? Ini drama komedi yang juga punya pesan moral tersendiri lhooo.. ^_*

Gak hanya drama yang bakal tampil, ada juga seminar dengan racikan spesial..
Apa sih yang bikin spesialnya???
Mau tahu aja atau mau tahu banget?? hehehe...:D
Yang bikin spesialnya karena seminar ini bisa bantu teman-teman untuk mendapatkan inspirasi yang WOW... Plussss ada rekrutmen juga lho buat teman-teman yang memang berminat gabung di komunitas NGABRINK ini...:) :)
Seneng kan?? Seneng ya? Harus seneng lhooo, kapan lagi coba ikutan seminar, nonton drama musikalisasi, dapat makan siang dan berpeluang dapat doorprize seruuu dan cuma 20 rebu. Pulang dapat ilmu, wawasan, keluarga baru, mudah-mudahan dapat semangat baru juga untuk lebih baik lagi... ^_^

Jangan lewatkan yaa teman-teman..!!
Dijamiiiin gak bakalan nyesel, seriusssss deh...:D


Oke deh segitu aja info-infonya, kalau minat jangan lupa kirim komentarnya ya di bawah ini, bisa juga kunjungi grupnya di facebook dengan alamat Ngabrink Community...:)
Ngabrink??? Bringgg togetherrrr duluuuur forever...
Wassalamu'alaikum ^_^

Rabu, 25 Februari 2015

Kasih Ibu




            Hari itu sepulang bekerja menjajakan koran, Ibu mampir membelikan sepatu sekolah untuk adik. Berbekal uang seadanya, Ibu berangkat ke pasar tempat sepatu-sepatu itu dijual. Setelah hampir tiga puluh menit memilih, Ibu pulang ke rumah sambil membawakan bungkusan nasi untuk kakak dan adik yang pulang dari sekolah.
            Setibanya di rumah Ibu melihat seisi rumah berantakan. Namun itu tak lantas membuat uring-uringan. Alih-alih uring-uringan Ibu malah langsung membereskan rumah dengan sigap dan cekatan. Memang ukuran rumah mereka itu sangat jauh dari kata luas. Tentu jauh pula dari deskripsi megah. Tapi di rumah itulah Ibu merawat dan melindungi kedua putranya. Kakak yang berusia 14 tahun dan adik yang berusia 10 tahun itu satu sama lain selalu nampak bersama. Di rumah, Ibu memeluk kakak dan adik seraya sambil tersenyum riang memamerkan apa yang telah dibelinya.
            Kakak nampak puas menerima bungkusan nasi dari ibu sedangkan adik hanya menatap dingin melihat makanan yang ada dihadapannya. Memang sudah dari kemarin, kakak belum makan. Bukan karena tidak ingin makan, tapi karena memang tidak ada yang bisa dimakan. Maklum saja, Ibu hanya lah seorang penjaja koran sedangkan Ayah sudah sejak lama meninggal. Biaya sewa rumah, listrik, makan, dan sekolah  semuanya ibu tanggung sendirian. Itu sebabnya, kadang ada hari-hari dimana kakak atau ibu harus menahan lapar bergantian. Demi mengatur keuangan keluarga, Ibu dan kakak puasa bergiliran. Jika hari senin, kakak yang berpuasa maka hari selasa ibulah yang berpuasa. Sedang adik yang masih kecil, rasanya tidak lah mungkin untuk diajak berpuasa secara rutin. Paling-paling kalau sudah kepepet akhir bulan, baru lah adik dibujuk oleh ibu untuk berpuasa seharian.
            “Kok nggak dimakan Dik?” tanya kakak sumringah.
            “Adik puasa ya?” tanya Ibu sambil tersenyum.
            “Nggak mau. Adik gak nafsu.”
Kakak dan Ibu menoleh bergantian. Mereka saling bertukar pandang tak mengerti.
            “Oh ya sudah kalau gitu coba dilihat, ini Ibu belikan sepatu buat Adik sekolah besok.”
            “Wah asik Adik punya sepatu baru.” Seru kakak dengan riang.
Adik menatap sepatu yang ibu belikan. Sepatu itu nampak pas di kaki Adik. Namun entah mengapa adik hanya menatapnya. Sama sekali ia tidak mencoba sepatu itu.
            “Ayo dicoba!” kata kakak.
            “Bukan sepatu itu yang adik mau. Itu jelek, adik gak suka.” Adik melempar sepatu itu ke lantai. Adik kemudian menangis sesenggukan, dan lari ke sudut rumah yang ukurannya tidak lebih dari 4x6 meter itu. Suasana rumah menjadi hening dan yang terdengar hanya suara tangis adik. Ibu kemudian melipat sepatu itu dan memasukannya ke dalam kantong plastik hitam.
Keesokan harinya sepulang sekolah, Kakak mengajak Adik bermain ke tempat ibu bekerja. Tentu hal itu tanpa sepengetahuan Ibu. Kakak meminta adik untuk mengamati Ibu dari kejauhan tanpa sepengetahuan Ibu.
“Kenapa sih kak kok kita mengamati Ibu dari jauh?”
“Ada yang mesti adik lihat.”
Setelah beberapa jam berlalu, adik melihat Ibu bulak-balik membantu pelanggan memilih koran namun hanya satu dua orang saja yang membeli. Adik juga melihat raut wajah senang ibu ketika menghitung rupiah demi rupiah yang terkumpul dari beberapa ribuan. Beberapa kali ibu juga nampak mengangguk-anggukan kepala kepada calon pembeli. Tak hanya itu ibu juga terlihat sesekali ditunjuk-tunjuk oleh bosnya, si bos juga terlihat sering membentak-bentak ibu. Melihat hal itu, adik nampak kesal.
            “Kenapa ibu mau-maunya dimarah-marahin sama bosnya sih kak?”
            “Karena Ibu pengen bisa beliin adik sama kakak makanan enak, juga semua kebutuhan sekolah, Ibu rela dimarah-marahin bosnya Dik.”
Adik terdiam. Ia ingat sikapnya kemarin saat Ibu dengan susah payahnya membelikan ia makanan dan sepatu untuknya sekolah. Tiba-tiba air mata bening menetes dari wajah adik. Sambil berlutut kakak memeluk adik erat.  Sore harinya, di jam yang sama dengan hari kemarin Adik menunggu Ibu sambil mengenakan sepatu yang kemarin Ibu belikan. Melihat hal itu, kakak tersenyum senang.
            “Sepatu itu nampak cocok buat Adik.” Ucap kakak tulus.
            “Iya gitu kak?”
            “Iya. Ibu juga pasti senang Adik mau pakai sepatu itu.”
            Dan adik pun tersenyum riang, dengan sabar Adik menunggu kepulangan Ibu. Sayangnya, sore itu Ibu tidak lagi pulang ke rumah mereka yang berukuran 4x6 meter itu. Ibu tidak lagi bisa melihat Adik mengenakan sepatu itu karena Tuhan meminta Ibu untuk pulang ke dalam pelukan-Nya.
Sore itu tepat saat adik menunggu, gerimis turun. Ibu yang sedang gembira karena bisa mendapat uang lebih hari itu, berencana untuk belok ke pertokoan sepatu di emperan kota. Diperempatan jalan yang nampak sepi, ketika Ibu hendak menyebrang tiba-tiba dengan kecepatan tinggi sebuah mobil Avanza melintas menghantam sepeda yang Ibu tumpangi. Ibu terpental sejauh 10 meter dengan kepala membentur bahu jalan. Beberapa jam setelah dilarikan ke rumah sakit, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya.
            Di rumah, kedua anak itu berpelukan erat saat mengetahui kabar kepergian Ibunya. Warga sekitar yang membantu mengurus mayat Ibu, terlihat iba melihat kedua anak laki-laki yang tidak henti-hentinya menangisi kepergian Ibunya.
            “Adik belum sempat bilang maaf ke ibu Kak.”
            “Ibu pasti sudah memaafkan Adik kok.”
            “Adik mau ketemu Ibu kak. Adik mau ketemu Ibu. Kali ini saja Kak. Adik janji Adik gak akan marah-marah lagi sama Ibu. Adik janji Kak.” Suara Adik terdengar parau. Adik menangis lebih keras bayangannya tentang Ibu melekat begitu kuat. Begitu pula kakak. Hanya bedanya bayangan milik Adik diisi oleh penyesalan yang begitu dalam sedangkan bayangan milik kakak adalah bayangan kerinduan yang tak tertahankan.
            “Adik cuma mau bilang kalau Adik sayang Ibu kak. Adik sayang Ibu.” Kalimat itu menggantung di langit. Karena Kakak juga sedang memikirkan hal yang sama. Dan Tuhan Maha Tahu serta Maha Mendengar penyesalan hamba-Nya. Diiringi oleh rintik hujan, keduanya mengantarkan Ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dalam hati keduanya berjanji untuk menjadi Putra kebanggaan Ibu. Mereka berjanji untuk bisa menjaga satu sama lain. Duhai ujian ini nampak begitu berat bagi anak seusia mereka. Bagaimana mereka melanjutkan hidup? Entahlah. Tapi esok atau lusa kita akan tahu dan paham betul bahwa tidak ada ujian yang Tuhan berikan diluar batas kemampuan hamba-Nya. Bahwa Tuhan selalu memiliki rencana terbaik bagi hamba-Nya. Hingga suatu sore yang cerah, saat kedua anak yatim piatu itu tumbuh menjadi manusia-manusia hebat dengan prestasi-prestasi cemerlang dan datang kembali untuk berziarah ke makam ibu dan ayahnya.
            “Andai Adik dulu tidak bersikap kasar pada Ibu...”
            “Kadang sesuatu itu terasa sangat berharga setelah kita merasakan kehilangannya, Dik. Kakak percaya Allah lebih sayang ibu.”
            “Seandainya adik tahu bahwa itu adalah hari terakhir kita berkumpul bersama ibu....”
            “Sudah. Yang penting sekarang gimana kita jadi anak shaleh buat Ibu, Dik. Agar dengan begitu, Ibu dan ayah bisa tenang di sisi-Nya.”
Kedua kakak beradik itu bergantian menabur bunga. Dengan takzim mereka meninggalkan pemakaman Ibu. Adik yang tetap menyimpan penyesalan seumur hidupnya akhirnya paham hidup adalah rahasia Tuhan. Mensyukuri apa yang Tuhan berikan adalah kunci lain setelah bersabar mengahadapi ujian-Nya. Dan kasih Ibu adalah nikmat lain yang sering dilupakan tanpa sadar, padahal tanpa pernah ia tahu sampai kapan nikmat itu Tuhan titipkan.
            Pada akhirnya keduanya percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Bahwa Dia Maha Adil dan Maha Memaafkan kesalahan setiap hamba-Nya. Selalu ada hikmah di setiap peristiwa. Pun begitu dengan setiap kejadian pahit yang menimpa mereka. Ada hikmah yang bisa diambil. Beberapa hari setelah kecelakaan Ibu, keduanya diadopsi oleh pemilik mobil avanza yang telah menabrak ibu. Keduanya dibesarkan dan disekolahkan hingga sarjana. Meski kasih ibu tidak akan pernah bisa tergantikan, tapi mereka cukup mendapat perhatian dan perlindungan yang layak dari orang tua angkatnya.
“Kami sayang Ibu, selamanya kami akan berusaha menjadi yang terbaik buat Ibu.” Gumam Adik pelan. Sedang kakak hanya mengangguk seraya berdoa, “Jaga Ibu untuk kami ya Allah, sebagaimana Ibu menjaga kami sewaktu kami kecill.”

Selasa, 24 Februari 2015

Galau? Aku sih No!



            Hari itu untuk pertama kalinya aku melihat Kiara menangis. Kiara, sahabatku, gadis yang malang. Aku tak bisa mendefinisikan kemalangannya, kemalangan yang sebenarnya menurutku banyak membawa hikmah, andai Kiara mau berpikir ‘waras’.
“Din, besok hari ke 100 aku jadian sama Yuda. Kita berencana buat ngerayainnya, kamu mau ikut?”
“Boleh, kalian traktir ya?” Aku tersenyum menggodanya.
Kiara mengangguk semangat. Namun tak lama dari itu aku melihat Kiara mengangkat telepon. Dari ujung sana ku dengar suara Yuda sayup-sayup.
“Yaah.. Yuda malah sakit Din, acara besok di pending deh.”
            Setelah itu pembicaraan kami berganti menjadi pembicaraan tentang tugas-tugas di sekolah. Aku dan Kiara sama-sama duduk di SMA, kami se-sekolah namun beda kelas. Rumah kami berdekatan sehingga kami saling mengenal satu sama lain dan bisa saling berkunjung dengan mudah. Kamar kami pun hanya terhalang dua rumah. Itu sebabnya, Kiara tak sungkan masuk ke dalam kamarku. Dan aku pun tak sungkan masuk ke dalam kamar Kiara.
            Kiara sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, tak jarang kami menghabiskan waktu bersama untuk sekedar kongkow-kongkow, makan, belanja dan segudang aktivitas cewek yang biasa dijalankan kebanyakan orang.
            Kami bersahabat, tapi sebenarnya sifat kami berbeda. Kiara tipe orang extrovert, yang bisa dengan mudah bergaul dengan banyak orang. Sedangkan aku tipe orang introvert, yang sangat selektif dalam memilih banyak hal termasuk teman. Di sekolah Kiara, gabung dengan tim cheers dan padus, sedangkan aku bergabung dengan anak-anak karya ilmiah remaja dan remaja mesjid.
            Suatu hari, Kiara bercerita padaku tentang perasaannya. Tentu ini bukan untuk pertama kalinya Kiara bercerita semacam ini. Aku pun sudah terbiasa menjadi pendengar setianya. Dia menceritakan betapa jantungnya berdegup, setiap kali ia bertemu dengan sosok yang ia suka. Betapa senangnya setiap kali ia menemukan sosok itu. Sosok itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yuda, teman se-SMP-ku yang kini jadi teman sekelasnya. Entah mengapa Yuda bisa begitu menarik di mata Kiara hingga Kiara bisa dengan mudah menyukainya. Hampir tiap bertemu, Yuda lah yang menjadi topik utamanya. Selalu begitu sindrom orang jatuh cinta.
            Hingga waktu berlalu, akhirnya Kiara memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Yuda. Tentu ini bukan saranku. Malah kalau boleh aku menyarankan agar Kiara tidak jatuh cinta dulu. Agar Kiara bisa fokus dengan belajarnya. Tapi ya itulah Kiara. Tidak butuh waktu lama, Yuda pun akhirnya menerimanya.
            Layaknya orang yang dimabuk cinta, Kiara selalu mengutamakan Yuda. Bahkan dibandingkan dengan aku sahabatnya, Kiara selalu lebih mendahulukan Yuda. Sempat aku merasa sebal namun rasanya itu bukan perasaan yang seharusnya. Bukankah sahabat akan ikut bahagia, melihat sahabatnya bahagia?
“Din, mau aku antar?” tanya Yuda suatu hari sepulang sekolah.
“Nggak usah Yud, makasih. Duluan ya.”
Yuda yang sudah menjadi pacar Kiara, entah mengapa jadi begitu ‘sok’ akrab terhadapku. Bukan untuk pertama kalinya, ia menawarkan tumpangan gratis, bahkan tak jarang ia mengirim pesan-pesan singkat yang tidak perlu aku jawab. Kalimat tanya seperti, lagi apa? Udah makan atau belum? Dan sekelumit kalimat tidak penting lainnya dari Yuda yang sering nyasar ke handphoneku. Entah mengapa dari sejak saat itu aku menduga Yuda spesies buaya darat. Hanya aku belum bisa memastikannya, tapi kalau benar bagaimana cara aku memberitahukannya pada Kiara? Arghh..
Sepulangnya di rumah, saat aku tengah merebahkan kepalaku di atas kasur dan tanpa sengaja aku menengok jendela ke luar. Aku melihat Kiara berjalan keluar dari taxi dengan wajah lesu. Saat aku telepon, Kiara hanya bilang bahwa ia tadi mendapat nilai ulangan jelek di sekolah. Setelah itu, Kiara menutup teleponnya.
“Beberapa minggu ini ulanganku jelek terus, Din.”
“Ya sudah belajar yang semangat Ki.” Ingin sekali ku katakan, makanya Ki jangan pacaran dulu. Pacaran kan setidaknya pasti menyita waktu belajarmu. Fokus dulu mengejar impianmu, nanti kalau memang jodoh pasti nggak akan kemana.Lagian apa kerennya Yuda sih? Aduh Ki, Yuda itu sepertinya buaya darat, akan lebih baik kalau kemu putus dengannya Namun kalimat itu hanya berada di ujung lidah, aku kelu saat ingin mengatakannya.
Dan tepat di hari yang ke 100, saat Kiara berpikir bahwa Yuda tengah sakit hingga membatalkan rencana mereka, Kiara menemukan fakta bahwa Yuda tengah membohonginya. Bermaksud untuk menjenguk Yuda ke rumahnya dan memberi kejutan, malah ia yang balik diberi kejutan. Kejutan bahwa Yuda sedang tidak sakit, dan malah tengah asik mengobrol di kafe dekat rumahnya bersama seorang gadis cantik. Menurut Kiara, ia melihat gadis itu mengusap keringat Yuda dan Yuda balas mengelus pipi gadis itu. Bahkan Kiara sempat mendengar, Yuda memanggil gadis itu dengan sebutan ‘ayang’.
Sampai disana, aku merasa lega. Lega karena Kiara menemukan fakta itu sendiri pada akhirnya. Namun di saat yang sama aku melihat Kiara menitikan air mata.
“Aku ngerasa sesak banget Din pas lihat Yuda kayak gitu.”
“Udah ya Ki, jangan dipikirin. Mending kita fokus buat sekolah dulu. In shaa Allah kamu pasti dapat ambil hikmahnya.”
Keesokan harinya , saat di sekolah, entah apa yang terjadi aku kembali melihat Kiara berggandengan tangan lagi dengan Yuda.
“Yuda ngaku salah Din, ternyata yang kemaren aku lihat itu saudaranya.”
“Kamu yakin?”
“Iya Din. Yuda udah cerita semuanya sama aku. Katanya itu sepupu Yuda yang baru datang dari Bandung. Itu sebabnya Yuda pending acara kita kemaren.”
“Tapi bukannya dia bilang dia sakit?”
“Iya, dia Cuma mau jaga perasaan aku aja. Dia takut kalau aku ngira lebih mentingin saudaranya dibanding aku.”
Aku hanya bisa menelan ludah, pasrah.
“Ini Yuda beliin aku coklat kesukaanku sama kotak musik hati. Kata dia kalau aku kangen dia, aku bisa buka kotak musik ini sebagai gantinya. Romantis kan Din?”
“Romantis dari mana? Dia itu habis bohongin kamu Ki. Masa sih kamu ga nyadar?” Akhirnya kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.
“Maksud kamu apa sih Din?”
“Semuanya ga masuk akal Din, alasan Yuda ke kamu itu ga masuk akal. Kalau emang cewek itu saudaranya, bisa aja kan dia ajak saudaranya itu buat ketemu kamu sekalian ngerayain hari jadian kalian yang ke 100? Terus kenapa juga dia panggil gadis itu dengan sebutan ayang, bahkan dia sampai hati bohongin kamu.”
Kiara tercenung mendengar penjelasanku.
“Bisa aja kan dia pengen punya waktu khusus buat saudaranya? Atau bisa jadi saudaranya itu pemalu dan ga pengen diganggu. Bisa aja mereka ngobrolin hal-hal yang sifatnya rahasia keluarga. Kalau sebutan ayang itu emang sebutan gadis itu di keluarganya karena dia anak bungsu. Aku percaya Din, Yuda gak mungkin dengan sengaja nyakitin aku. Aku percaya dia tulus sama aku.”
            Kali ini aku yang tercenung. Aku benar-benar kehabisan kata. Oh god, bagaimana bisa Kiara berpikir senaif itu. Saudara? Pake elus-elus pipi, lap-lap keringat bahkan manggil ayang. Saudara macam apa itu?
            Entahlah aku tidak ingin berdebat dengan Kiara. Aku pikir akan ada saatnya dia tahu dan menyesali kebodohannya. Hingga saat itu tiba, aku harap Kiara sudah menyiapkan mentalnya. Aku yakin Kiara tahu yang sebenarnya, hanya kini dia tengah asik membenarkan lamunannya tentang sosok Yuda yang sempurna. Aku bisa apa?
            Sebagai sahabat aku sudah mengingatkannya. Kalau memang menjadi naif adalah pilihannya, aku tak bisa apa-apa. Mungkin saat ini di dunia Kiara, Yuda lah sosok paling keren itu. Suatu hari aku yakin Kiara bisa menemukan yang lebih baik dan ini hanya tinggal waktu. Suatu saat spesies seperti Yuda akan mengetahui hukum menanam dan menuai dengan baik. Dan bagiku, ini semua bisa dijadikan pelajaran. Sebesar apapun rasa suka yang kita punya, logika tetaplah harus berjalan beriringan. Dan untuk itu, ketika suka jangan suka banget. Biasa saja. Menyukai dengan wajar, membenci dengan wajar, dan bereaksi dengan wajar. Sehingga tak perlu ada logika yang lumpuh dan angan-angan yang melambung abnormal. Lagi pula kalau kita renungkan, cintanya itu pasti tidak akan sebesar cinta-Nya. Kenapa mesti sibuk menggalau kalau ada cinta dari yang Maha sempurna...? Bukankah ada yang lebih pasti dari sekedar orang yang saling jatuh cinta yakni takdir kematian yang pasti akan datang menghampiri. 

Bukankah saat kita menjadi sebaik-baiknya makhluk, maka seseorang dengan sebaik-baiknya diri pun tengah menanti kita? Kalau tidak di dunia, mungkin di akhirat. Tentu kebaikan diri kita akan mengundang cinta yang lebih berkelas. Dan itu adalaha janji-Nya. Janji yang tak mungkin ingkar, salah, atau meleset.


Senin, 23 Februari 2015

Si Sombong dan Si Licik



            Namaku, Halmahera. Teman-teman biasa memanggilku Ama. Di sekolah aku cukup populer, dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan segudang prestasi yang cukup membanggakan. Aku juga banyak dikenal dan disukai oleh para guru. Menurut mereka, aku murid yang penuh antusias dan sangat aktif dalam kegiatan intra ataupun ekstra. Meski demikian sebenarnya aku tak memiliki banyak teman dekat. Lain halnya dengan Tasya. Si cerewet yang satu ini memiliki banyak sahabat, dia disukai banyak teman karena tingkahnya yang supel dan menyenangkan. Tak hanya sampai disitu, Tasya pun selalu nyaris menyaingi prestasiku. Jika aku mendapat juara 1, maka dapat dipastikan ialah juara 2 nya. Dan seperti itu pula, saat guru-guru memilih aku dan Tasya sebagai kandidat calon ketua OSIS. Dari 8 kelas, dari 10 orang pendaftar, entah mengapa hanya aku dan Tasya yang terjaring. Jujur, menjadi ketua OSIS bukan ambisiku tapi jika sudah dihadapkan pada tahap maju atau mundur, aku paling tidak suka mengatakan mundur. Sejak saat itu, aku bertekad untuk memenangkan pemilihan ketuas OSIS dengan cara sportif. Aku tidak suka kecurangan, sekecil apa pun itu. Dan Tasya, meski ia adalah rivalku, aku tetap lebih nyaman menganggapnya sebagai teman baik. Setidaknya aku bisa berbagi apa yang aku tahu, dan apa yang aku pikir benar.
            Hingga suatu hari, sehabis ulangan tanpa sengaja aku menemukan kertas contekan di laci meja milik Tasya. Aku sempat bingung dengan secarik kertas itu. Tulisan itu jelas aku kenal, itu tulisan Tasya. Namun aku juga tak berani menuduh. Kalau catatan itu bukan dimaksudkan untuk menyontek, lantas mengapa catatan itu dibuat sekecil mungkin? Tanya ku dalam hati.
            Keesokan harinya saat sedang ulangan matematika, aku menoleh ke arah Tasya. Tak sengaja, aku melihat Tasya mengambil sesuatu dari laci mejanya, dan BINGO! Dugaanku sebelumnya adalah benar. Tasya menyontek.
            Saat itu entah mengapa perasaanku pada Tasya berubah. Aku balik tidak menyukainya. Bagaimana mungkin Tasya melakukan kecurangan seperti itu? Murid sekelas Tasya menyontek, itu merupakan hal yang memalukan pikirku. Entah mengapa aku merasa dicurangi. Aku belajar keras untuk mendapat nilai terbaikku, sedang ia malah mendapatkannya dengan cara yang sangat mudah. Sejak saat itu, aku tak pernah mau banyak berbicara dengan Tasya. Aku juga merasa Tasya bukan teman baikku. Teman baik tidak mungkin mencurangi temannya. Ia juga bukan rival yang pantas untukku.
            Hingga waktu pemilihan tiba, Tasya sempurna terpilih sebagai ketua OSIS dengan suara mencapi 55%. Aku yang paling tidak suka basa-basi lebih memilih diam tak berkomentar.
“Kamu nggak akan ngucapin selamat buat aku, Ma?” tanya Tasya padaku.
“Selamat ya Tasya, semoga kamu bisa jadi ketua OSIS yang baik.”
“Makasih ya Ma, aku harap kali ini kamu nggak keberatan aku kalahin.”
“Sejak kapan aku keberatan kamu kalahin? Kalau kamu mau dan mampu, silahkan.” Tasya menatapku dengan tatapan tidak suka dan begitu tatapanku padanya, penuh rasa ketidak sukaan.
“Kalau aku mau, aku pasti udah kalahin kamu dari sejak lama Ma.”
“Oya? Hehehe jadi sebenarnya kamu mampu ngalahin aku gitu?Baguslah kalau begitu ayo buktiin. Buktiin kalau kamu mampu ngalahin aku tentu dengan cara yang pantas dan sportif, ketua presiden OSIS yang terhormat.”

Waktu berlalu, saat hendak di bagi raport, tanpa sengaja beberapa teman perempuan tengah asik memperbincangkan sesuatu.
“Menurut kamu, semester ini siapa yang akan juara di kelas?” tanya seorang berambut panjang.
“Siapa lagi kalau bukan si sombong Ama.”
“Ah, mana mungkin! Aku yakin si Ama kalah sama si Tasya.”
“Kok kamu mikir gitu?”
“Ya iyalah, si Ama boleh lebih cerdas. Tapi si Tasya itu jauh lebih cerdik.”
“Iya sih kalau itu aku tahu. Yang satu cerdas tapi belagu. Yang satu nggak belagu tapi cerdik alias cerdas dan licik.”
“Hahaha.. iya kamu bener dua-duanya nggak ada yang mending.”
“Iya tapi seenggaknya lah si Tasya itu masih mau berbagi jawaban sama kita, nggak kaya si sombong Ama.”
“Iya bener setidaknya kita masih bisa kecipratan untung sama si Tasya.”
            Aku terpaku di tempat mendengar kalimat-kalimat itu. Selama ini aku tidak pernah menyangka bahwa penilaian teman-teman tentang aku adalah si sombong.
            Ya aku memang tidak begitu suka keramaian, aku tidak suka ikut pergi acara kongkow-kongkow, party atau semacamnya. Aku cenderung acuh dengan teman-teman yang hanya akan baik ketika ada butuhnya saja, aku juga cenderung tidak suka banyak berbicara jika bukan di lingkunganku. Aku akui temanku rata-rata anak orang kaya, anak-anak dengan prestasi cemerlang. Di saat jam istirahat, aku lebih suka berada di perpus, ketimbang ngerumpi bersama mereka. Di saat tidak ada guru di kelas, aku lebih senang memasang earphone dan mengerjakan latihan-latihan soal dari pada nimbrung dan berbincang-bincang dengan mereka. Aku juga paling tidak suka memberi contekan. Namun aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan dianggap sombong oleh teman-temanku. Dan lebih tragis lagi nampaknya mereka lebih berpihak pada si licik daripada si sombong.      Ya memang kalau mengikuti aturan langit, kesombongan sebesar biji zarah akan menyebabkan si sombong tidak akan pernah mencium bau surga. Namun jika mengikuti aturan bumi, tidak satupun orang sombong yang dikenai hukuman pidana lain halnya dengan si licik. Kesombongan bukan tindakan kriminal seperti kelicikan tapi mengapa kesombongan lebih mereka benci dari pada kelicikan. Bahkan saat mereka dihadapkan dengan pilihan pemimpin, mereka lebih senang dipimpin oleh si licik dari pada si sombong. Si sombong yang malang.  
            Saat aku sibuk dengan pemikiranku, tanpa sepengetahuanku, Tasya pun mendengarkan apa yang aku dengarkan dari mulut 2  orang itu.
“Sepertinya menjadi si sombong itu jauh lebih baik ya Ma dari pada si licik.”
Aku mengerutkan keningku tak mengerti. Bukannya jelas menjadi si sombong itu tidak banyak yang menyukai?
“Setidaknya si sombong tidak akan pernah merasa dirinya dimanfaatkan dan dibodohi.”
Aku kembali terdiam mencerna kalimat-kalimat Tasya.
“Aku tidak menyangka orang yang aku anggap teman, bisa dengan sadis mengatakan bahwa aku si licik yang bisa dimanfaatkan.”
“Sudahlah Tas, aku juga si sombong yang tidak punya banyak teman kok. Setidaknya biarpun tampak dibodohi dan dimanfaatkan, kamu masih punya teman, anggap lah itu sebagai harga sebuah pertemanan.”
Tasya termenung di depanku. Dalam diam aku mengakui, pertemanan aku dan Tasya cukup menarik untuk dikisahkan. Dan di hari berikutnya, aku dan Tasya menjadi teman baik yang benar-benar baik. Kami tak sungkan saling mengkoreksi dan mengingatkan. Tak ada yang sempurna, baik aku atau pun Tasya pada akhirnya berusaha untuk lebih baik.
Tasya menghentikan kebiasaannya menyontek, sedang aku berusaha lebih ramah dan terbuka kepada yang lainnya.
“Jangan pernah menjadi si licik yang bisa dimanfaatkan! Karena kenyataannya kelicikan ga pernah bikin kamu lebih hebat dari aku. Kamu hanya berhasil membohongi orang lain tapi tidak dengan diri kamu.”
“Dan kamu juga jangan jadi si sombong yang dibenci! Karena kenyataannya tidak memiliki teman itu jauh lebih menyedihkan dari pada tidak memiliki prestasi.”
“Setidaknya aku ga dimanfaatin, Tas.”
“Dan setidaknya aku ga kesepian.”
“Hahaha yaa, kalau gitu mari kita berubah jadi si cerdas yang ga sombong dan ga licik. Sepakat?”
“Sepakat.”
10 tahun setelah hari itu, Tasya menjadi seorang dokter cantik, muda dan menarik. Tentu dengan pesona kecerdasan dan kelembutan yang jauh dari kesan licik. Dan aku tumbuh menjadi seorang jaksa muda, menarik dan penuh wibawa  yang menurut Tasya aku adalah jaksa yang penuh dengan dedikasi.
-Tamat-