Hari
itu sepulang bekerja menjajakan koran, Ibu mampir membelikan sepatu sekolah
untuk adik. Berbekal uang seadanya, Ibu berangkat ke pasar tempat sepatu-sepatu
itu dijual. Setelah hampir tiga puluh menit memilih, Ibu pulang ke rumah sambil
membawakan bungkusan nasi untuk kakak dan adik yang pulang dari sekolah.
Setibanya
di rumah Ibu melihat seisi rumah berantakan. Namun itu tak lantas membuat
uring-uringan. Alih-alih uring-uringan Ibu malah langsung membereskan rumah
dengan sigap dan cekatan. Memang ukuran rumah mereka itu sangat jauh dari kata
luas. Tentu jauh pula dari deskripsi megah. Tapi di rumah itulah Ibu merawat
dan melindungi kedua putranya. Kakak yang berusia 14 tahun dan adik yang
berusia 10 tahun itu satu sama lain selalu nampak bersama. Di rumah, Ibu
memeluk kakak dan adik seraya sambil tersenyum riang memamerkan apa yang telah
dibelinya.
Kakak
nampak puas menerima bungkusan nasi dari ibu sedangkan adik hanya menatap
dingin melihat makanan yang ada dihadapannya. Memang sudah dari kemarin, kakak
belum makan. Bukan karena tidak ingin makan, tapi karena memang tidak ada yang
bisa dimakan. Maklum saja, Ibu hanya lah seorang penjaja koran sedangkan Ayah
sudah sejak lama meninggal. Biaya sewa rumah, listrik, makan, dan sekolah semuanya ibu tanggung sendirian. Itu sebabnya,
kadang ada hari-hari dimana kakak atau ibu harus menahan lapar bergantian. Demi
mengatur keuangan keluarga, Ibu dan kakak puasa bergiliran. Jika hari senin,
kakak yang berpuasa maka hari selasa ibulah yang berpuasa. Sedang adik yang
masih kecil, rasanya tidak lah mungkin untuk diajak berpuasa secara rutin.
Paling-paling kalau sudah kepepet akhir bulan, baru lah adik dibujuk oleh ibu
untuk berpuasa seharian.
“Kok
nggak dimakan Dik?” tanya kakak sumringah.
“Adik
puasa ya?” tanya Ibu sambil tersenyum.
“Nggak
mau. Adik gak nafsu.”
Kakak dan Ibu menoleh bergantian.
Mereka saling bertukar pandang tak mengerti.
“Oh
ya sudah kalau gitu coba dilihat, ini Ibu belikan sepatu buat Adik sekolah
besok.”
“Wah
asik Adik punya sepatu baru.” Seru kakak dengan riang.
Adik menatap sepatu yang ibu
belikan. Sepatu itu nampak pas di kaki Adik. Namun entah mengapa adik hanya
menatapnya. Sama sekali ia tidak mencoba sepatu itu.
“Ayo
dicoba!” kata kakak.
“Bukan
sepatu itu yang adik mau. Itu jelek, adik gak suka.” Adik melempar sepatu itu
ke lantai. Adik kemudian menangis sesenggukan, dan lari ke sudut rumah yang
ukurannya tidak lebih dari 4x6 meter itu. Suasana rumah menjadi hening dan yang
terdengar hanya suara tangis adik. Ibu kemudian melipat sepatu itu dan
memasukannya ke dalam kantong plastik hitam.
Keesokan harinya sepulang
sekolah, Kakak mengajak Adik bermain ke tempat ibu bekerja. Tentu hal itu tanpa
sepengetahuan Ibu. Kakak meminta adik untuk mengamati Ibu dari kejauhan tanpa
sepengetahuan Ibu.
“Kenapa sih kak kok kita
mengamati Ibu dari jauh?”
“Ada yang mesti adik lihat.”
Setelah beberapa jam berlalu,
adik melihat Ibu bulak-balik membantu pelanggan memilih koran namun hanya satu
dua orang saja yang membeli. Adik juga melihat raut wajah senang ibu ketika
menghitung rupiah demi rupiah yang terkumpul dari beberapa ribuan. Beberapa
kali ibu juga nampak mengangguk-anggukan kepala kepada calon pembeli. Tak hanya
itu ibu juga terlihat sesekali ditunjuk-tunjuk oleh bosnya, si bos juga
terlihat sering membentak-bentak ibu. Melihat hal itu, adik nampak kesal.
“Kenapa
ibu mau-maunya dimarah-marahin sama bosnya sih kak?”
“Karena
Ibu pengen bisa beliin adik sama kakak makanan enak, juga semua kebutuhan
sekolah, Ibu rela dimarah-marahin bosnya Dik.”
Adik terdiam. Ia ingat sikapnya
kemarin saat Ibu dengan susah payahnya membelikan ia makanan dan sepatu
untuknya sekolah. Tiba-tiba air mata bening menetes dari wajah adik. Sambil
berlutut kakak memeluk adik erat. Sore
harinya, di jam yang sama dengan hari kemarin Adik menunggu Ibu sambil
mengenakan sepatu yang kemarin Ibu belikan. Melihat hal itu, kakak tersenyum
senang.
“Sepatu
itu nampak cocok buat Adik.” Ucap kakak tulus.
“Iya
gitu kak?”
“Iya.
Ibu juga pasti senang Adik mau pakai sepatu itu.”
Dan
adik pun tersenyum riang, dengan sabar Adik menunggu kepulangan Ibu. Sayangnya,
sore itu Ibu tidak lagi pulang ke rumah mereka yang berukuran 4x6 meter itu.
Ibu tidak lagi bisa melihat Adik mengenakan sepatu itu karena Tuhan meminta Ibu
untuk pulang ke dalam pelukan-Nya.
Sore itu tepat saat adik
menunggu, gerimis turun. Ibu yang sedang gembira karena bisa mendapat uang
lebih hari itu, berencana untuk belok ke pertokoan sepatu di emperan kota.
Diperempatan jalan yang nampak sepi, ketika Ibu hendak menyebrang tiba-tiba
dengan kecepatan tinggi sebuah mobil Avanza melintas menghantam sepeda yang Ibu
tumpangi. Ibu terpental sejauh 10 meter dengan kepala membentur bahu jalan.
Beberapa jam setelah dilarikan ke rumah sakit, Ibu menghembuskan nafas
terakhirnya.
Di
rumah, kedua anak itu berpelukan erat saat mengetahui kabar kepergian Ibunya.
Warga sekitar yang membantu mengurus mayat Ibu, terlihat iba melihat kedua anak
laki-laki yang tidak henti-hentinya menangisi kepergian Ibunya.
“Adik
belum sempat bilang maaf ke ibu Kak.”
“Ibu
pasti sudah memaafkan Adik kok.”
“Adik
mau ketemu Ibu kak. Adik mau ketemu Ibu. Kali ini saja Kak. Adik janji Adik gak
akan marah-marah lagi sama Ibu. Adik janji Kak.” Suara Adik terdengar parau.
Adik menangis lebih keras bayangannya tentang Ibu melekat begitu kuat. Begitu
pula kakak. Hanya bedanya bayangan milik Adik diisi oleh penyesalan yang begitu
dalam sedangkan bayangan milik kakak adalah bayangan kerinduan yang tak
tertahankan.
“Adik
cuma mau bilang kalau Adik sayang Ibu kak. Adik sayang Ibu.” Kalimat itu
menggantung di langit. Karena Kakak juga sedang memikirkan hal yang sama. Dan
Tuhan Maha Tahu serta Maha Mendengar penyesalan hamba-Nya. Diiringi oleh rintik
hujan, keduanya mengantarkan Ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dalam hati
keduanya berjanji untuk menjadi Putra kebanggaan Ibu. Mereka berjanji untuk
bisa menjaga satu sama lain. Duhai ujian ini nampak begitu berat bagi anak
seusia mereka. Bagaimana mereka melanjutkan hidup? Entahlah. Tapi esok atau
lusa kita akan tahu dan paham betul bahwa tidak ada ujian yang Tuhan berikan
diluar batas kemampuan hamba-Nya. Bahwa Tuhan selalu memiliki rencana terbaik
bagi hamba-Nya. Hingga suatu sore yang cerah, saat kedua anak yatim piatu itu
tumbuh menjadi manusia-manusia hebat dengan prestasi-prestasi cemerlang dan
datang kembali untuk berziarah ke makam ibu dan ayahnya.
“Andai
Adik dulu tidak bersikap kasar pada Ibu...”
“Kadang
sesuatu itu terasa sangat berharga setelah kita merasakan kehilangannya, Dik.
Kakak percaya Allah lebih sayang ibu.”
“Seandainya
adik tahu bahwa itu adalah hari terakhir kita berkumpul bersama ibu....”
“Sudah.
Yang penting sekarang gimana kita jadi anak shaleh buat Ibu, Dik. Agar dengan
begitu, Ibu dan ayah bisa tenang di sisi-Nya.”
Kedua kakak beradik itu bergantian
menabur bunga. Dengan takzim mereka meninggalkan pemakaman Ibu. Adik yang tetap
menyimpan penyesalan seumur hidupnya akhirnya paham hidup adalah rahasia Tuhan.
Mensyukuri apa yang Tuhan berikan adalah kunci lain setelah bersabar
mengahadapi ujian-Nya. Dan kasih Ibu adalah nikmat lain yang sering dilupakan
tanpa sadar, padahal tanpa pernah ia tahu sampai kapan nikmat itu Tuhan
titipkan.
Pada
akhirnya keduanya percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Bahwa Dia Maha Adil
dan Maha Memaafkan kesalahan setiap hamba-Nya. Selalu ada hikmah di setiap
peristiwa. Pun begitu dengan setiap kejadian pahit yang menimpa mereka. Ada
hikmah yang bisa diambil. Beberapa hari setelah kecelakaan Ibu, keduanya
diadopsi oleh pemilik mobil avanza yang telah menabrak ibu. Keduanya dibesarkan
dan disekolahkan hingga sarjana. Meski kasih ibu tidak akan pernah bisa
tergantikan, tapi mereka cukup mendapat perhatian dan perlindungan yang layak
dari orang tua angkatnya.
“Kami sayang Ibu, selamanya kami
akan berusaha menjadi yang terbaik buat Ibu.” Gumam Adik pelan. Sedang kakak
hanya mengangguk seraya berdoa, “Jaga Ibu untuk kami ya Allah, sebagaimana Ibu
menjaga kami sewaktu kami kecill.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar