Rabu, 25 Februari 2015

Kasih Ibu




            Hari itu sepulang bekerja menjajakan koran, Ibu mampir membelikan sepatu sekolah untuk adik. Berbekal uang seadanya, Ibu berangkat ke pasar tempat sepatu-sepatu itu dijual. Setelah hampir tiga puluh menit memilih, Ibu pulang ke rumah sambil membawakan bungkusan nasi untuk kakak dan adik yang pulang dari sekolah.
            Setibanya di rumah Ibu melihat seisi rumah berantakan. Namun itu tak lantas membuat uring-uringan. Alih-alih uring-uringan Ibu malah langsung membereskan rumah dengan sigap dan cekatan. Memang ukuran rumah mereka itu sangat jauh dari kata luas. Tentu jauh pula dari deskripsi megah. Tapi di rumah itulah Ibu merawat dan melindungi kedua putranya. Kakak yang berusia 14 tahun dan adik yang berusia 10 tahun itu satu sama lain selalu nampak bersama. Di rumah, Ibu memeluk kakak dan adik seraya sambil tersenyum riang memamerkan apa yang telah dibelinya.
            Kakak nampak puas menerima bungkusan nasi dari ibu sedangkan adik hanya menatap dingin melihat makanan yang ada dihadapannya. Memang sudah dari kemarin, kakak belum makan. Bukan karena tidak ingin makan, tapi karena memang tidak ada yang bisa dimakan. Maklum saja, Ibu hanya lah seorang penjaja koran sedangkan Ayah sudah sejak lama meninggal. Biaya sewa rumah, listrik, makan, dan sekolah  semuanya ibu tanggung sendirian. Itu sebabnya, kadang ada hari-hari dimana kakak atau ibu harus menahan lapar bergantian. Demi mengatur keuangan keluarga, Ibu dan kakak puasa bergiliran. Jika hari senin, kakak yang berpuasa maka hari selasa ibulah yang berpuasa. Sedang adik yang masih kecil, rasanya tidak lah mungkin untuk diajak berpuasa secara rutin. Paling-paling kalau sudah kepepet akhir bulan, baru lah adik dibujuk oleh ibu untuk berpuasa seharian.
            “Kok nggak dimakan Dik?” tanya kakak sumringah.
            “Adik puasa ya?” tanya Ibu sambil tersenyum.
            “Nggak mau. Adik gak nafsu.”
Kakak dan Ibu menoleh bergantian. Mereka saling bertukar pandang tak mengerti.
            “Oh ya sudah kalau gitu coba dilihat, ini Ibu belikan sepatu buat Adik sekolah besok.”
            “Wah asik Adik punya sepatu baru.” Seru kakak dengan riang.
Adik menatap sepatu yang ibu belikan. Sepatu itu nampak pas di kaki Adik. Namun entah mengapa adik hanya menatapnya. Sama sekali ia tidak mencoba sepatu itu.
            “Ayo dicoba!” kata kakak.
            “Bukan sepatu itu yang adik mau. Itu jelek, adik gak suka.” Adik melempar sepatu itu ke lantai. Adik kemudian menangis sesenggukan, dan lari ke sudut rumah yang ukurannya tidak lebih dari 4x6 meter itu. Suasana rumah menjadi hening dan yang terdengar hanya suara tangis adik. Ibu kemudian melipat sepatu itu dan memasukannya ke dalam kantong plastik hitam.
Keesokan harinya sepulang sekolah, Kakak mengajak Adik bermain ke tempat ibu bekerja. Tentu hal itu tanpa sepengetahuan Ibu. Kakak meminta adik untuk mengamati Ibu dari kejauhan tanpa sepengetahuan Ibu.
“Kenapa sih kak kok kita mengamati Ibu dari jauh?”
“Ada yang mesti adik lihat.”
Setelah beberapa jam berlalu, adik melihat Ibu bulak-balik membantu pelanggan memilih koran namun hanya satu dua orang saja yang membeli. Adik juga melihat raut wajah senang ibu ketika menghitung rupiah demi rupiah yang terkumpul dari beberapa ribuan. Beberapa kali ibu juga nampak mengangguk-anggukan kepala kepada calon pembeli. Tak hanya itu ibu juga terlihat sesekali ditunjuk-tunjuk oleh bosnya, si bos juga terlihat sering membentak-bentak ibu. Melihat hal itu, adik nampak kesal.
            “Kenapa ibu mau-maunya dimarah-marahin sama bosnya sih kak?”
            “Karena Ibu pengen bisa beliin adik sama kakak makanan enak, juga semua kebutuhan sekolah, Ibu rela dimarah-marahin bosnya Dik.”
Adik terdiam. Ia ingat sikapnya kemarin saat Ibu dengan susah payahnya membelikan ia makanan dan sepatu untuknya sekolah. Tiba-tiba air mata bening menetes dari wajah adik. Sambil berlutut kakak memeluk adik erat.  Sore harinya, di jam yang sama dengan hari kemarin Adik menunggu Ibu sambil mengenakan sepatu yang kemarin Ibu belikan. Melihat hal itu, kakak tersenyum senang.
            “Sepatu itu nampak cocok buat Adik.” Ucap kakak tulus.
            “Iya gitu kak?”
            “Iya. Ibu juga pasti senang Adik mau pakai sepatu itu.”
            Dan adik pun tersenyum riang, dengan sabar Adik menunggu kepulangan Ibu. Sayangnya, sore itu Ibu tidak lagi pulang ke rumah mereka yang berukuran 4x6 meter itu. Ibu tidak lagi bisa melihat Adik mengenakan sepatu itu karena Tuhan meminta Ibu untuk pulang ke dalam pelukan-Nya.
Sore itu tepat saat adik menunggu, gerimis turun. Ibu yang sedang gembira karena bisa mendapat uang lebih hari itu, berencana untuk belok ke pertokoan sepatu di emperan kota. Diperempatan jalan yang nampak sepi, ketika Ibu hendak menyebrang tiba-tiba dengan kecepatan tinggi sebuah mobil Avanza melintas menghantam sepeda yang Ibu tumpangi. Ibu terpental sejauh 10 meter dengan kepala membentur bahu jalan. Beberapa jam setelah dilarikan ke rumah sakit, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya.
            Di rumah, kedua anak itu berpelukan erat saat mengetahui kabar kepergian Ibunya. Warga sekitar yang membantu mengurus mayat Ibu, terlihat iba melihat kedua anak laki-laki yang tidak henti-hentinya menangisi kepergian Ibunya.
            “Adik belum sempat bilang maaf ke ibu Kak.”
            “Ibu pasti sudah memaafkan Adik kok.”
            “Adik mau ketemu Ibu kak. Adik mau ketemu Ibu. Kali ini saja Kak. Adik janji Adik gak akan marah-marah lagi sama Ibu. Adik janji Kak.” Suara Adik terdengar parau. Adik menangis lebih keras bayangannya tentang Ibu melekat begitu kuat. Begitu pula kakak. Hanya bedanya bayangan milik Adik diisi oleh penyesalan yang begitu dalam sedangkan bayangan milik kakak adalah bayangan kerinduan yang tak tertahankan.
            “Adik cuma mau bilang kalau Adik sayang Ibu kak. Adik sayang Ibu.” Kalimat itu menggantung di langit. Karena Kakak juga sedang memikirkan hal yang sama. Dan Tuhan Maha Tahu serta Maha Mendengar penyesalan hamba-Nya. Diiringi oleh rintik hujan, keduanya mengantarkan Ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dalam hati keduanya berjanji untuk menjadi Putra kebanggaan Ibu. Mereka berjanji untuk bisa menjaga satu sama lain. Duhai ujian ini nampak begitu berat bagi anak seusia mereka. Bagaimana mereka melanjutkan hidup? Entahlah. Tapi esok atau lusa kita akan tahu dan paham betul bahwa tidak ada ujian yang Tuhan berikan diluar batas kemampuan hamba-Nya. Bahwa Tuhan selalu memiliki rencana terbaik bagi hamba-Nya. Hingga suatu sore yang cerah, saat kedua anak yatim piatu itu tumbuh menjadi manusia-manusia hebat dengan prestasi-prestasi cemerlang dan datang kembali untuk berziarah ke makam ibu dan ayahnya.
            “Andai Adik dulu tidak bersikap kasar pada Ibu...”
            “Kadang sesuatu itu terasa sangat berharga setelah kita merasakan kehilangannya, Dik. Kakak percaya Allah lebih sayang ibu.”
            “Seandainya adik tahu bahwa itu adalah hari terakhir kita berkumpul bersama ibu....”
            “Sudah. Yang penting sekarang gimana kita jadi anak shaleh buat Ibu, Dik. Agar dengan begitu, Ibu dan ayah bisa tenang di sisi-Nya.”
Kedua kakak beradik itu bergantian menabur bunga. Dengan takzim mereka meninggalkan pemakaman Ibu. Adik yang tetap menyimpan penyesalan seumur hidupnya akhirnya paham hidup adalah rahasia Tuhan. Mensyukuri apa yang Tuhan berikan adalah kunci lain setelah bersabar mengahadapi ujian-Nya. Dan kasih Ibu adalah nikmat lain yang sering dilupakan tanpa sadar, padahal tanpa pernah ia tahu sampai kapan nikmat itu Tuhan titipkan.
            Pada akhirnya keduanya percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Bahwa Dia Maha Adil dan Maha Memaafkan kesalahan setiap hamba-Nya. Selalu ada hikmah di setiap peristiwa. Pun begitu dengan setiap kejadian pahit yang menimpa mereka. Ada hikmah yang bisa diambil. Beberapa hari setelah kecelakaan Ibu, keduanya diadopsi oleh pemilik mobil avanza yang telah menabrak ibu. Keduanya dibesarkan dan disekolahkan hingga sarjana. Meski kasih ibu tidak akan pernah bisa tergantikan, tapi mereka cukup mendapat perhatian dan perlindungan yang layak dari orang tua angkatnya.
“Kami sayang Ibu, selamanya kami akan berusaha menjadi yang terbaik buat Ibu.” Gumam Adik pelan. Sedang kakak hanya mengangguk seraya berdoa, “Jaga Ibu untuk kami ya Allah, sebagaimana Ibu menjaga kami sewaktu kami kecill.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar