Assalamu'alaikum...
Teman-teman, inilah sepenggal catatan mengenai perjalanan keluarga besar NGABRINK hari ini..
Tema diskusi dan seminar kita kali ini adalah bagaiaman mengubah masalah menjadi sebuah berkah yang Alhamdulillah acara berjalan lancar tepat tanggal 01 Maret 2015 @gd. Yudhistira.
Sekedar merangkum hasil seminar dan diskusi hari ini, kami ingin sedikit mengurai apa masalah itu sendiri dan bagaimana mengolahnya menjadi sesuatu yang berkah.. Teman-teman tahu, kenapa begitu banyak orang berlomba-lomba, bergalau ria, sibuk up date status menceritakan masalah dan keluhannya...?? Apa yang membuat mereka segalau itu hingga tidur tak nyenyak, makan tak nikmat?? Benarkah masalah itu sebuah hambatan untuk kita menjadi manusia yang sukses secara kaca mata dunia dan akhirat??
Pertama, perlu kita ketahui dengan sederhana bahwa masalah muncul karena adanya selisih antara harapan dan realita. Harapan yang biasanya berupa 'Harta, Tahta, dan Cinta' yang ternyata berbeda dengan realita yang ada yang akhirnya membuat kita GEGANA (Gelisah, Galau, Merana).
Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik (surga).
(QS: Ali Imran Ayat: 14)
Dari ayat tersebut, kita bisa lihat bahwa pada dasarnya sudah menjadi sebuah ketetapan Allah bahwa manusia akan memandang indah segala hal yang berkaitan dengan harta, tahta dan Cinta. Cinta yang dimisalkan dengan wanita, anak, lalu harta yang dimisalkan dengan emas, perak dan kuda pilihan, tahta yang dimisalkan dengan binatang ternak dan sawah ladang. Sebuah ketetapan yang sangat wajar dimiliki oleh setiap manusia namun di kalimat terakhir Allah mengatakan bahwa di sisi Allah lah tempat kembali yang baik, yang seolah menyatakan secara tidak langsung urusan 'Harta, Tahta dan Cinta' seharusnya lah menjadi alat untuk kita meraih surga-Nya, bukan malah kita yang diperalat oleh ketiga hal tersebut. Sibuk menggalau hanya karena urusan si dia. Sibuk korupsi dan pencitraan demi harta dan tahta manusia dan lain sebagainya merupakan salah satu contoh bahwa masalah itu nyata.
Terus bagaimana seharusnya??
Baca catatan selanjutnya esok hari ya, see you later ^_^