Assalamu'alaikum...
Teman-teman, inilah sepenggal catatan mengenai perjalanan keluarga besar NGABRINK hari ini..
Tema diskusi dan seminar kita kali ini adalah bagaiaman mengubah masalah menjadi sebuah berkah yang Alhamdulillah acara berjalan lancar tepat tanggal 01 Maret 2015 @gd. Yudhistira.
Sekedar merangkum hasil seminar dan diskusi hari ini, kami ingin sedikit mengurai apa masalah itu sendiri dan bagaimana mengolahnya menjadi sesuatu yang berkah.. Teman-teman tahu, kenapa begitu banyak orang berlomba-lomba, bergalau ria, sibuk up date status menceritakan masalah dan keluhannya...?? Apa yang membuat mereka segalau itu hingga tidur tak nyenyak, makan tak nikmat?? Benarkah masalah itu sebuah hambatan untuk kita menjadi manusia yang sukses secara kaca mata dunia dan akhirat??
Pertama, perlu kita ketahui dengan sederhana bahwa masalah muncul karena adanya selisih antara harapan dan realita. Harapan yang biasanya berupa 'Harta, Tahta, dan Cinta' yang ternyata berbeda dengan realita yang ada yang akhirnya membuat kita GEGANA (Gelisah, Galau, Merana).
Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik (surga).
(QS: Ali Imran Ayat: 14)
Dari ayat tersebut, kita bisa lihat bahwa pada dasarnya sudah menjadi sebuah ketetapan Allah bahwa manusia akan memandang indah segala hal yang berkaitan dengan harta, tahta dan Cinta. Cinta yang dimisalkan dengan wanita, anak, lalu harta yang dimisalkan dengan emas, perak dan kuda pilihan, tahta yang dimisalkan dengan binatang ternak dan sawah ladang. Sebuah ketetapan yang sangat wajar dimiliki oleh setiap manusia namun di kalimat terakhir Allah mengatakan bahwa di sisi Allah lah tempat kembali yang baik, yang seolah menyatakan secara tidak langsung urusan 'Harta, Tahta dan Cinta' seharusnya lah menjadi alat untuk kita meraih surga-Nya, bukan malah kita yang diperalat oleh ketiga hal tersebut. Sibuk menggalau hanya karena urusan si dia. Sibuk korupsi dan pencitraan demi harta dan tahta manusia dan lain sebagainya merupakan salah satu contoh bahwa masalah itu nyata.
Terus bagaimana seharusnya??
Baca catatan selanjutnya esok hari ya, see you later ^_^
Minggu, 01 Maret 2015
Jumat, 27 Februari 2015
Mengeluh itu Nggak Banget
Kantin ramai seperti biasanya. Di pojok sebelah kanan, tepat
disamping jendela Rani dan ketiga teman lainnya sedang asik berbincang. Sambil
menyantap hidangan makan siang, mereka tak henti-hentinya membicarakan rencana
liburan akhir semester yang tinggal menghitung hari. Tak selang beberapa lama,
Ayu menghampiri ke-empat temannya dengan wajah memberenggut.
“Bete deh gue, masa iya tadi tuh ya Si Riko nyenggol gue
ampe jatuh. Gue kan malu dilihat sama anak-anak kelas X.” Sahut Ayu tiba-tiba.
“Ah mungkin ga sengaja kali Yu.” Timpal Nita berusaha
menenangkan.
“Iya tapi tetap aja kalau jalan tuh dia harusnya pake mata,
lagian suruh siapa sih dia lari-lari di koridor sekolah.”
“Ya udah loe maafin aja, Tuhan aja Maha Pemaaf masa kita
hamba-Nya ga mau maafin orang sih Yu.” Akhirnya Rani buka suara yang langsung
disetujui oleh tiga teman lainnya yang kebetulan tadi sedang asik mengobrol.
“Ah, loe sih gampang ngomong gitu soalnya loe ga ngerasain.
Coba kalau loe jadi gue.” Ayu masih saja memberenggut dengan mukannya yang
masam. Tak lamabel pun berbunyi menandakan waktu istirahat sudah berakhir.
Masing-masing dari mereka berhamburan menuju kelas. Di sisa jam terakhir, Ayu
melirik Rani teman sebangkunya.
“Gue bete deh, pelajaran Bu Isma itu pasti bikin ngantuk.”
Tanpa banyak basa-basi Rani menyodorkan permen yang ada di
sakunya dengan harapan Ayu akan berhenti mengeluh.
“Ah, nggak deh Ran. Gue ga suka permen kopi gini, ga enak.”
“Ya udah loe cuci muka aja sana.”
“Gue males. Cuci muka di toilet sekolah tuh bau, bikin gue pengen
muntah.”
“Rani, Ayu kalian maju ke depan.” Tiba-tiba saja Bu Isma
memanggil keduanya. Mereka diminta untuk menerangkan kembali apa yang mereka
dapatkan hari ini. Sepertinya Bu Isma mendengar mereka mengobrol di kelas.
Setelah keduanya menerangkan kembali, Bu Isma berpesan kepada keduanya untuk
bisa menghargai orang yang tengah berbicara.
Sepulangnya dari sekolah, Ayu berjalan berdampingan dengan
Rani yang kebetulan rumahnya saling berdekatan. Dalam hati Rani sudah merasa
jengkel dengan sikap Ayu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
“Gue ga nyangka, guru kaya Bu Isma yang suaranya nyaris tak terdengar itu bisa juga ya marah dan mnghukum kita?” Sahut Ayu membuka pembicaraan.
“Gue ga nyangka, guru kaya Bu Isma yang suaranya nyaris tak terdengar itu bisa juga ya marah dan mnghukum kita?” Sahut Ayu membuka pembicaraan.
Rani hanya diam tak berkomentar. Tiba-tiba Nita datang dari
arah sebrang, dan dengan riang ia mengajak Ayu dan Rani untuk mampir ke
rumahnya yang tak jauh dari sekolah.
“Aduh jalanannya panas banget, gue bingung kenapa ya bulan
september gini belum musim hujan juga.”Keluh Ayu ketika tawaran itu datang
seolah ia tengah menolak untuk diajak jalan kaki dan mampir ke rumah Nita.
“Ya loe kalau mau dingin pasang Ac berjalan aja.” Jawab Nita
sembari membawa ranselnya.
“Gue mau Nit, ke rumah loe.” Jawab Rani seketika dengan
maksud untuk menghindari Ayu. Mood sedang jelek, jadi ia tidak ingin memperparah
moodnya dengan mendengarkan keluhan Ayu sepanjang jalan.
“Yaaah loe Ran, kan ini panas banget masa iya sih harus ke
rumah Nita dulu. Kita pulang aja yuk?” desak Ayu pada Rani.
“Kalau loe ga mau ikut, loe bisa kok pulang duluan.” Jawab
Rani cuek.
Keesokan harinya, saat Ayu memasuki kelas ia keheranan
mendapati Rani yang sudah pindah duduknya di meja paling depan.
“Ran, kok loe pindah sih?”
“Gue mau duduk di depan.”
“Kenapa?”
Karena males banget kalau gue mesti dihukum lagi sama
guru gara-gara dengerin keluhan loe yang ga ada ujungnya.
“Ran, kok loe malah ngelamun sih?”
“Nggak, gue ga ngelamun.”
“Ooh.. Ran, loe tahu ga ya gue bete banget tahu tadi pas
naik angkot eh angkotnya malah ngetem. Lama banget, untung gue ga kesiangan.”
Ceracau Ayu sambil memindahkan tasnya untuk duduk di sebelah Rani.
“Oya?”
“Iya, dan lebih nyebelin lagi pas tadi gue jalan gue ketemu
si Riko di koridor. Dan dengan ekspresi innocent gitu dia nyapa gue.”
“Oya?”
“Iya, padahal gue masih berasa malunya gara-gara kemaren dia
senggol ampe jatuh.”
Rani hanya diam tak menanggapi. Ekspresi mukanya datar
seolah ingin menunjukan ketidak tertarikannya terhadap topik yang dibicarakan
oleh Ayu. Sayangnya, Ayu tak menyadari itu. Ia kembali berbicara dengan
keluhannya yang lain. Keluhan yang sebenarnya tak perlu ia keluhkan, keluhan
yang membuatnya terlihat menyebalkan di hadapan teman-temannya.
“Ran, pulang sekolah
kita main yuk?”
“Nggak ah, Yu. Gue mau pulang ke rumah.”
“Please Ran.”
“Nggak Yu, gue mesti cepet pulang.”
“Gue bete deh sama loe, loe jadi gak asik
sekarang-sekarang.” Ucap Ayu pada Rani ketus.
“Bukannya dari dulu loe selalu bete sama semua hal?” Jawab
Rani balik sebal.
“Maksud loe?”
“Loe pikir aja sendiri.”
Ayu yang mendengar kalimat itu mendengus kesal berlalu
meninggalkan kelas. Saat di halaman parkir, Ayu mendengar perbincangan Tia dan
Nita.
“Iya Ti, kita langsung ke rumah Rani aja. Gue dengar papa
Rani sakit stroke jadi buat menghibur dia, mending kita ke rumahnya aja
langsung.”
“Iya, kita beli apa ya buat papanya Rani?”
“Papa Rani sakit?” Akhirnya Ayu menyela pembicaraan kedua
temannya.
“Iya, emang loe ga tahu?” tanya Tia.
“Nggak, Rani ga pernah cerita.”
“Gimana Rani mau cerita, kalau loe sendiri lebih sibuk
ngeluh.” Ucap Nita.
“Sibuk ngeluh gimana
maksud loe?” Tanya Rani dengan nada sewot.
“Loe tuh selalu sibuk ngeluh sama banyak hal. Bete inilah,
bete itulah. Loe sibuk sama diri loe sendiri, seolah loe yang paling menderita
di muka bumi ini. Padahal di luar sana, bahkan di samping loe, sahabat loe
sendiri, punya masalah dan beban yang lebih berat dari loe.”
Ayu terhenyak mendengar kalimat temannya. Tia yang melihat
raut wajah Ayu, langsung mendekatinya. “Udah loe jangan matung, mending ikut
kita jenguk papanya Rani.”
Ayu manggut dan mengikuti langkah Nita dan Tia menjenguk
papa Rani. Di rumah Rani, Ayu meminta maaf pada Rani. Meminta maaf untuk segala
keegoisannya.
“Maafin gue ya Ran. Gue ga tahu, kalau ternyata loe punya
beban yang lebih berat dari gue. Gue minta maaf buat keegoisan dan segala
keluhan gue yang ga penting selama ini. Gue sadar, kenapa gue ga punya banyak
teman. Karena gue selalu mengeluh dan lupa bersyukur. Lebih sering bilang, gue
bete dibandingkan gue bersyukur.”
“Gak apa-apa Yu. Gue juga minta maaf ya karena selama ini
gue ga pernah berani buat negur loe. Gue ga bisa jadi sahabat yang baik buat
loe, mestinya gue ngingetin loe.”
“Udah-udah kalian jangan lebai, ah.” Sahut Nita
“Haha iya, kalian sok cantik banget.” Sahut Tia kemudian.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
"Harusnya dari awal gue bersyukur, karena gue punya kalian." ucap Ayu.
Bukankah sahabat yang
baik itu sahabat yang selalu mengingatkan sahabatnya untuk senantiasa berada
dalam kebaikan? Tidak ada manusia yang terlahir sempurna meski demikian, kita
tetap memiliki kewajiban untu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Karena mengeluh bukan solusi, maka bersabar dan bersyukur menjadi jawabannya.
Info Menarik 2015
Assalamu'alaikum... Teman-teman gimana kabarnya?
Sudah beberapa sessi ini komunitas NGABRINK menayangkan beberapa cerpen hasil karya original sahabat NGABRINK yang sebetulnya merupakan salah satu program dari KOMUNITAS NGABRINK sendiri yakni "SAHABAT PENA".
Nah, alhamdulillah pekan ini tanggal Minggu, 01 Maret 2015 @gd. Yudhistira Jl. Parabon III No.15 Bandung, bakalan launching lagi drama musikal yang tentunya asli original karya sahabat NGABRINK dengan judul "GANTENG-GANTENG BATU ALI."
Ini cerita luar biasa tentang sosok si ganteeeng TWISTAN yang harus berurusan dengan dua gadis cantik, lalu apa hubungannya dengan batu ali..?? Apa ya?? Apa cobaaaa??
Teman-teman penasaran ceritanya?? Ini drama komedi yang juga punya pesan moral tersendiri lhooo.. ^_*
Gak hanya drama yang bakal tampil, ada juga seminar dengan racikan spesial..
Apa sih yang bikin spesialnya???
Mau tahu aja atau mau tahu banget?? hehehe...:D
Yang bikin spesialnya karena seminar ini bisa bantu teman-teman untuk mendapatkan inspirasi yang WOW... Plussss ada rekrutmen juga lho buat teman-teman yang memang berminat gabung di komunitas NGABRINK ini...:) :)
Seneng kan?? Seneng ya? Harus seneng lhooo, kapan lagi coba ikutan seminar, nonton drama musikalisasi, dapat makan siang dan berpeluang dapat doorprize seruuu dan cuma 20 rebu. Pulang dapat ilmu, wawasan, keluarga baru, mudah-mudahan dapat semangat baru juga untuk lebih baik lagi... ^_^
Jangan lewatkan yaa teman-teman..!!
Dijamiiiin gak bakalan nyesel, seriusssss deh...:D
Oke deh segitu aja info-infonya, kalau minat jangan lupa kirim komentarnya ya di bawah ini, bisa juga kunjungi grupnya di facebook dengan alamat Ngabrink Community...:)
Ngabrink??? Bringgg togetherrrr duluuuur forever...
Wassalamu'alaikum ^_^
Sudah beberapa sessi ini komunitas NGABRINK menayangkan beberapa cerpen hasil karya original sahabat NGABRINK yang sebetulnya merupakan salah satu program dari KOMUNITAS NGABRINK sendiri yakni "SAHABAT PENA".
Nah, alhamdulillah pekan ini tanggal Minggu, 01 Maret 2015 @gd. Yudhistira Jl. Parabon III No.15 Bandung, bakalan launching lagi drama musikal yang tentunya asli original karya sahabat NGABRINK dengan judul "GANTENG-GANTENG BATU ALI."
Ini cerita luar biasa tentang sosok si ganteeeng TWISTAN yang harus berurusan dengan dua gadis cantik, lalu apa hubungannya dengan batu ali..?? Apa ya?? Apa cobaaaa??
Teman-teman penasaran ceritanya?? Ini drama komedi yang juga punya pesan moral tersendiri lhooo.. ^_*
Gak hanya drama yang bakal tampil, ada juga seminar dengan racikan spesial..
Apa sih yang bikin spesialnya???
Mau tahu aja atau mau tahu banget?? hehehe...:D
Yang bikin spesialnya karena seminar ini bisa bantu teman-teman untuk mendapatkan inspirasi yang WOW... Plussss ada rekrutmen juga lho buat teman-teman yang memang berminat gabung di komunitas NGABRINK ini...:) :)
Seneng kan?? Seneng ya? Harus seneng lhooo, kapan lagi coba ikutan seminar, nonton drama musikalisasi, dapat makan siang dan berpeluang dapat doorprize seruuu dan cuma 20 rebu. Pulang dapat ilmu, wawasan, keluarga baru, mudah-mudahan dapat semangat baru juga untuk lebih baik lagi... ^_^
Jangan lewatkan yaa teman-teman..!!
Dijamiiiin gak bakalan nyesel, seriusssss deh...:D
Oke deh segitu aja info-infonya, kalau minat jangan lupa kirim komentarnya ya di bawah ini, bisa juga kunjungi grupnya di facebook dengan alamat Ngabrink Community...:)
Ngabrink??? Bringgg togetherrrr duluuuur forever...
Wassalamu'alaikum ^_^
Rabu, 25 Februari 2015
Kasih Ibu
Hari
itu sepulang bekerja menjajakan koran, Ibu mampir membelikan sepatu sekolah
untuk adik. Berbekal uang seadanya, Ibu berangkat ke pasar tempat sepatu-sepatu
itu dijual. Setelah hampir tiga puluh menit memilih, Ibu pulang ke rumah sambil
membawakan bungkusan nasi untuk kakak dan adik yang pulang dari sekolah.
Setibanya
di rumah Ibu melihat seisi rumah berantakan. Namun itu tak lantas membuat
uring-uringan. Alih-alih uring-uringan Ibu malah langsung membereskan rumah
dengan sigap dan cekatan. Memang ukuran rumah mereka itu sangat jauh dari kata
luas. Tentu jauh pula dari deskripsi megah. Tapi di rumah itulah Ibu merawat
dan melindungi kedua putranya. Kakak yang berusia 14 tahun dan adik yang
berusia 10 tahun itu satu sama lain selalu nampak bersama. Di rumah, Ibu
memeluk kakak dan adik seraya sambil tersenyum riang memamerkan apa yang telah
dibelinya.
Kakak
nampak puas menerima bungkusan nasi dari ibu sedangkan adik hanya menatap
dingin melihat makanan yang ada dihadapannya. Memang sudah dari kemarin, kakak
belum makan. Bukan karena tidak ingin makan, tapi karena memang tidak ada yang
bisa dimakan. Maklum saja, Ibu hanya lah seorang penjaja koran sedangkan Ayah
sudah sejak lama meninggal. Biaya sewa rumah, listrik, makan, dan sekolah semuanya ibu tanggung sendirian. Itu sebabnya,
kadang ada hari-hari dimana kakak atau ibu harus menahan lapar bergantian. Demi
mengatur keuangan keluarga, Ibu dan kakak puasa bergiliran. Jika hari senin,
kakak yang berpuasa maka hari selasa ibulah yang berpuasa. Sedang adik yang
masih kecil, rasanya tidak lah mungkin untuk diajak berpuasa secara rutin.
Paling-paling kalau sudah kepepet akhir bulan, baru lah adik dibujuk oleh ibu
untuk berpuasa seharian.
“Kok
nggak dimakan Dik?” tanya kakak sumringah.
“Adik
puasa ya?” tanya Ibu sambil tersenyum.
“Nggak
mau. Adik gak nafsu.”
Kakak dan Ibu menoleh bergantian.
Mereka saling bertukar pandang tak mengerti.
“Oh
ya sudah kalau gitu coba dilihat, ini Ibu belikan sepatu buat Adik sekolah
besok.”
“Wah
asik Adik punya sepatu baru.” Seru kakak dengan riang.
Adik menatap sepatu yang ibu
belikan. Sepatu itu nampak pas di kaki Adik. Namun entah mengapa adik hanya
menatapnya. Sama sekali ia tidak mencoba sepatu itu.
“Ayo
dicoba!” kata kakak.
“Bukan
sepatu itu yang adik mau. Itu jelek, adik gak suka.” Adik melempar sepatu itu
ke lantai. Adik kemudian menangis sesenggukan, dan lari ke sudut rumah yang
ukurannya tidak lebih dari 4x6 meter itu. Suasana rumah menjadi hening dan yang
terdengar hanya suara tangis adik. Ibu kemudian melipat sepatu itu dan
memasukannya ke dalam kantong plastik hitam.
Keesokan harinya sepulang
sekolah, Kakak mengajak Adik bermain ke tempat ibu bekerja. Tentu hal itu tanpa
sepengetahuan Ibu. Kakak meminta adik untuk mengamati Ibu dari kejauhan tanpa
sepengetahuan Ibu.
“Kenapa sih kak kok kita
mengamati Ibu dari jauh?”
“Ada yang mesti adik lihat.”
Setelah beberapa jam berlalu,
adik melihat Ibu bulak-balik membantu pelanggan memilih koran namun hanya satu
dua orang saja yang membeli. Adik juga melihat raut wajah senang ibu ketika
menghitung rupiah demi rupiah yang terkumpul dari beberapa ribuan. Beberapa
kali ibu juga nampak mengangguk-anggukan kepala kepada calon pembeli. Tak hanya
itu ibu juga terlihat sesekali ditunjuk-tunjuk oleh bosnya, si bos juga
terlihat sering membentak-bentak ibu. Melihat hal itu, adik nampak kesal.
“Kenapa
ibu mau-maunya dimarah-marahin sama bosnya sih kak?”
“Karena
Ibu pengen bisa beliin adik sama kakak makanan enak, juga semua kebutuhan
sekolah, Ibu rela dimarah-marahin bosnya Dik.”
Adik terdiam. Ia ingat sikapnya
kemarin saat Ibu dengan susah payahnya membelikan ia makanan dan sepatu
untuknya sekolah. Tiba-tiba air mata bening menetes dari wajah adik. Sambil
berlutut kakak memeluk adik erat. Sore
harinya, di jam yang sama dengan hari kemarin Adik menunggu Ibu sambil
mengenakan sepatu yang kemarin Ibu belikan. Melihat hal itu, kakak tersenyum
senang.
“Sepatu
itu nampak cocok buat Adik.” Ucap kakak tulus.
“Iya
gitu kak?”
“Iya.
Ibu juga pasti senang Adik mau pakai sepatu itu.”
Dan
adik pun tersenyum riang, dengan sabar Adik menunggu kepulangan Ibu. Sayangnya,
sore itu Ibu tidak lagi pulang ke rumah mereka yang berukuran 4x6 meter itu.
Ibu tidak lagi bisa melihat Adik mengenakan sepatu itu karena Tuhan meminta Ibu
untuk pulang ke dalam pelukan-Nya.
Sore itu tepat saat adik
menunggu, gerimis turun. Ibu yang sedang gembira karena bisa mendapat uang
lebih hari itu, berencana untuk belok ke pertokoan sepatu di emperan kota.
Diperempatan jalan yang nampak sepi, ketika Ibu hendak menyebrang tiba-tiba
dengan kecepatan tinggi sebuah mobil Avanza melintas menghantam sepeda yang Ibu
tumpangi. Ibu terpental sejauh 10 meter dengan kepala membentur bahu jalan.
Beberapa jam setelah dilarikan ke rumah sakit, Ibu menghembuskan nafas
terakhirnya.
Di
rumah, kedua anak itu berpelukan erat saat mengetahui kabar kepergian Ibunya.
Warga sekitar yang membantu mengurus mayat Ibu, terlihat iba melihat kedua anak
laki-laki yang tidak henti-hentinya menangisi kepergian Ibunya.
“Adik
belum sempat bilang maaf ke ibu Kak.”
“Ibu
pasti sudah memaafkan Adik kok.”
“Adik
mau ketemu Ibu kak. Adik mau ketemu Ibu. Kali ini saja Kak. Adik janji Adik gak
akan marah-marah lagi sama Ibu. Adik janji Kak.” Suara Adik terdengar parau.
Adik menangis lebih keras bayangannya tentang Ibu melekat begitu kuat. Begitu
pula kakak. Hanya bedanya bayangan milik Adik diisi oleh penyesalan yang begitu
dalam sedangkan bayangan milik kakak adalah bayangan kerinduan yang tak
tertahankan.
“Adik
cuma mau bilang kalau Adik sayang Ibu kak. Adik sayang Ibu.” Kalimat itu
menggantung di langit. Karena Kakak juga sedang memikirkan hal yang sama. Dan
Tuhan Maha Tahu serta Maha Mendengar penyesalan hamba-Nya. Diiringi oleh rintik
hujan, keduanya mengantarkan Ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dalam hati
keduanya berjanji untuk menjadi Putra kebanggaan Ibu. Mereka berjanji untuk
bisa menjaga satu sama lain. Duhai ujian ini nampak begitu berat bagi anak
seusia mereka. Bagaimana mereka melanjutkan hidup? Entahlah. Tapi esok atau
lusa kita akan tahu dan paham betul bahwa tidak ada ujian yang Tuhan berikan
diluar batas kemampuan hamba-Nya. Bahwa Tuhan selalu memiliki rencana terbaik
bagi hamba-Nya. Hingga suatu sore yang cerah, saat kedua anak yatim piatu itu
tumbuh menjadi manusia-manusia hebat dengan prestasi-prestasi cemerlang dan
datang kembali untuk berziarah ke makam ibu dan ayahnya.
“Andai
Adik dulu tidak bersikap kasar pada Ibu...”
“Kadang
sesuatu itu terasa sangat berharga setelah kita merasakan kehilangannya, Dik.
Kakak percaya Allah lebih sayang ibu.”
“Seandainya
adik tahu bahwa itu adalah hari terakhir kita berkumpul bersama ibu....”
“Sudah.
Yang penting sekarang gimana kita jadi anak shaleh buat Ibu, Dik. Agar dengan
begitu, Ibu dan ayah bisa tenang di sisi-Nya.”
Kedua kakak beradik itu bergantian
menabur bunga. Dengan takzim mereka meninggalkan pemakaman Ibu. Adik yang tetap
menyimpan penyesalan seumur hidupnya akhirnya paham hidup adalah rahasia Tuhan.
Mensyukuri apa yang Tuhan berikan adalah kunci lain setelah bersabar
mengahadapi ujian-Nya. Dan kasih Ibu adalah nikmat lain yang sering dilupakan
tanpa sadar, padahal tanpa pernah ia tahu sampai kapan nikmat itu Tuhan
titipkan.
Pada
akhirnya keduanya percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Bahwa Dia Maha Adil
dan Maha Memaafkan kesalahan setiap hamba-Nya. Selalu ada hikmah di setiap
peristiwa. Pun begitu dengan setiap kejadian pahit yang menimpa mereka. Ada
hikmah yang bisa diambil. Beberapa hari setelah kecelakaan Ibu, keduanya
diadopsi oleh pemilik mobil avanza yang telah menabrak ibu. Keduanya dibesarkan
dan disekolahkan hingga sarjana. Meski kasih ibu tidak akan pernah bisa
tergantikan, tapi mereka cukup mendapat perhatian dan perlindungan yang layak
dari orang tua angkatnya.
“Kami sayang Ibu, selamanya kami
akan berusaha menjadi yang terbaik buat Ibu.” Gumam Adik pelan. Sedang kakak
hanya mengangguk seraya berdoa, “Jaga Ibu untuk kami ya Allah, sebagaimana Ibu
menjaga kami sewaktu kami kecill.”
Selasa, 24 Februari 2015
Galau? Aku sih No!
Hari
itu untuk pertama kalinya aku melihat Kiara menangis. Kiara, sahabatku, gadis
yang malang. Aku tak bisa mendefinisikan kemalangannya, kemalangan yang
sebenarnya menurutku banyak membawa hikmah, andai Kiara mau berpikir ‘waras’.
“Din, besok hari ke 100 aku
jadian sama Yuda. Kita berencana buat ngerayainnya, kamu mau ikut?”
“Boleh, kalian traktir ya?” Aku
tersenyum menggodanya.
Kiara mengangguk semangat. Namun
tak lama dari itu aku melihat Kiara mengangkat telepon. Dari ujung sana ku dengar
suara Yuda sayup-sayup.
“Yaah.. Yuda malah sakit Din,
acara besok di pending deh.”
Setelah
itu pembicaraan kami berganti menjadi pembicaraan tentang tugas-tugas di
sekolah. Aku dan Kiara sama-sama duduk di SMA, kami se-sekolah namun beda kelas.
Rumah kami berdekatan sehingga kami saling mengenal satu sama lain dan bisa
saling berkunjung dengan mudah. Kamar kami pun hanya terhalang dua rumah. Itu
sebabnya, Kiara tak sungkan masuk ke dalam kamarku. Dan aku pun tak sungkan
masuk ke dalam kamar Kiara.
Kiara
sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, tak jarang kami menghabiskan waktu
bersama untuk sekedar kongkow-kongkow, makan, belanja dan segudang aktivitas
cewek yang biasa dijalankan kebanyakan orang.
Kami
bersahabat, tapi sebenarnya sifat kami berbeda. Kiara tipe orang extrovert,
yang bisa dengan mudah bergaul dengan banyak orang. Sedangkan aku tipe orang
introvert, yang sangat selektif dalam memilih banyak hal termasuk teman. Di
sekolah Kiara, gabung dengan tim cheers dan padus, sedangkan aku bergabung
dengan anak-anak karya ilmiah remaja dan remaja mesjid.
Suatu
hari, Kiara bercerita padaku tentang perasaannya. Tentu ini bukan untuk pertama
kalinya Kiara bercerita semacam ini. Aku pun sudah terbiasa menjadi pendengar
setianya. Dia menceritakan betapa jantungnya berdegup, setiap kali ia bertemu
dengan sosok yang ia suka. Betapa senangnya setiap kali ia menemukan sosok itu.
Sosok itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yuda, teman se-SMP-ku yang
kini jadi teman sekelasnya. Entah mengapa Yuda bisa begitu menarik di mata
Kiara hingga Kiara bisa dengan mudah menyukainya. Hampir tiap bertemu, Yuda lah
yang menjadi topik utamanya. Selalu begitu sindrom orang jatuh cinta.
Hingga
waktu berlalu, akhirnya Kiara memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya
terhadap Yuda. Tentu ini bukan saranku. Malah kalau boleh aku menyarankan agar
Kiara tidak jatuh cinta dulu. Agar Kiara bisa fokus dengan belajarnya. Tapi ya
itulah Kiara. Tidak butuh waktu lama, Yuda pun akhirnya menerimanya.
Layaknya
orang yang dimabuk cinta, Kiara selalu mengutamakan Yuda. Bahkan dibandingkan
dengan aku sahabatnya, Kiara selalu lebih mendahulukan Yuda. Sempat aku merasa sebal
namun rasanya itu bukan perasaan yang seharusnya. Bukankah sahabat akan ikut
bahagia, melihat sahabatnya bahagia?
“Din, mau aku antar?” tanya Yuda
suatu hari sepulang sekolah.
“Nggak usah Yud, makasih. Duluan
ya.”
Yuda yang sudah menjadi pacar
Kiara, entah mengapa jadi begitu ‘sok’ akrab terhadapku. Bukan untuk pertama
kalinya, ia menawarkan tumpangan gratis, bahkan tak jarang ia mengirim
pesan-pesan singkat yang tidak perlu aku jawab. Kalimat tanya seperti, lagi apa?
Udah makan atau belum? Dan sekelumit kalimat tidak penting lainnya dari Yuda
yang sering nyasar ke handphoneku. Entah mengapa dari sejak saat itu aku
menduga Yuda spesies buaya darat. Hanya aku belum bisa memastikannya, tapi
kalau benar bagaimana cara aku memberitahukannya pada Kiara? Arghh..
Sepulangnya di rumah, saat aku
tengah merebahkan kepalaku di atas kasur dan tanpa sengaja aku menengok jendela
ke luar. Aku melihat Kiara berjalan keluar dari taxi dengan wajah lesu. Saat
aku telepon, Kiara hanya bilang bahwa ia tadi mendapat nilai ulangan jelek di
sekolah. Setelah itu, Kiara menutup teleponnya.
“Beberapa minggu ini ulanganku
jelek terus, Din.”
“Ya sudah belajar yang semangat
Ki.” Ingin sekali ku katakan, makanya Ki jangan pacaran dulu. Pacaran kan
setidaknya pasti menyita waktu belajarmu. Fokus dulu mengejar impianmu, nanti
kalau memang jodoh pasti nggak akan kemana.Lagian apa kerennya Yuda sih? Aduh
Ki, Yuda itu sepertinya buaya darat, akan lebih baik kalau kemu putus dengannya
Namun kalimat itu hanya berada di ujung lidah, aku kelu saat ingin
mengatakannya.
Dan tepat di hari yang ke 100,
saat Kiara berpikir bahwa Yuda tengah sakit hingga membatalkan rencana mereka,
Kiara menemukan fakta bahwa Yuda tengah membohonginya. Bermaksud untuk
menjenguk Yuda ke rumahnya dan memberi kejutan, malah ia yang balik diberi
kejutan. Kejutan bahwa Yuda sedang tidak sakit, dan malah tengah asik mengobrol
di kafe dekat rumahnya bersama seorang gadis cantik. Menurut Kiara, ia melihat
gadis itu mengusap keringat Yuda dan Yuda balas mengelus pipi gadis itu. Bahkan
Kiara sempat mendengar, Yuda memanggil gadis itu dengan sebutan ‘ayang’.
Sampai disana, aku merasa lega.
Lega karena Kiara menemukan fakta itu sendiri pada akhirnya. Namun di saat yang
sama aku melihat Kiara menitikan air mata.
“Aku ngerasa sesak banget Din pas
lihat Yuda kayak gitu.”
“Udah ya Ki, jangan dipikirin.
Mending kita fokus buat sekolah dulu. In shaa Allah kamu pasti dapat ambil
hikmahnya.”
Keesokan harinya , saat di
sekolah, entah apa yang terjadi aku kembali melihat Kiara berggandengan tangan
lagi dengan Yuda.
“Yuda ngaku salah Din, ternyata
yang kemaren aku lihat itu saudaranya.”
“Kamu yakin?”
“Iya Din. Yuda udah cerita
semuanya sama aku. Katanya itu sepupu Yuda yang baru datang dari Bandung. Itu
sebabnya Yuda pending acara kita kemaren.”
“Tapi bukannya dia bilang dia
sakit?”
“Iya, dia Cuma mau jaga perasaan
aku aja. Dia takut kalau aku ngira lebih mentingin saudaranya dibanding aku.”
Aku hanya bisa menelan ludah,
pasrah.
“Ini Yuda beliin aku coklat
kesukaanku sama kotak musik hati. Kata dia kalau aku kangen dia, aku bisa buka
kotak musik ini sebagai gantinya. Romantis kan Din?”
“Romantis dari mana? Dia itu
habis bohongin kamu Ki. Masa sih kamu ga nyadar?” Akhirnya kalimat itu meluncur
begitu saja dari mulutku.
“Maksud kamu apa sih Din?”
“Semuanya ga masuk akal Din,
alasan Yuda ke kamu itu ga masuk akal. Kalau emang cewek itu saudaranya, bisa
aja kan dia ajak saudaranya itu buat ketemu kamu sekalian ngerayain hari jadian
kalian yang ke 100? Terus kenapa juga dia panggil gadis itu dengan sebutan
ayang, bahkan dia sampai hati bohongin kamu.”
Kiara tercenung mendengar
penjelasanku.
“Bisa aja kan dia pengen punya
waktu khusus buat saudaranya? Atau bisa jadi saudaranya itu pemalu dan ga
pengen diganggu. Bisa aja mereka ngobrolin hal-hal yang sifatnya rahasia
keluarga. Kalau sebutan ayang itu emang sebutan gadis itu di keluarganya karena
dia anak bungsu. Aku percaya Din, Yuda gak mungkin dengan sengaja nyakitin aku.
Aku percaya dia tulus sama aku.”
Kali
ini aku yang tercenung. Aku benar-benar kehabisan kata. Oh god, bagaimana
bisa Kiara berpikir senaif itu. Saudara? Pake elus-elus pipi, lap-lap keringat
bahkan manggil ayang. Saudara macam apa itu?
Entahlah
aku tidak ingin berdebat dengan Kiara. Aku pikir akan ada saatnya dia tahu dan
menyesali kebodohannya. Hingga saat itu tiba, aku harap Kiara sudah menyiapkan
mentalnya. Aku yakin Kiara tahu yang sebenarnya, hanya kini dia tengah asik
membenarkan lamunannya tentang sosok Yuda yang sempurna. Aku bisa apa?
Sebagai
sahabat aku sudah mengingatkannya. Kalau memang menjadi naif adalah pilihannya,
aku tak bisa apa-apa. Mungkin saat ini di dunia Kiara, Yuda lah sosok paling
keren itu. Suatu hari aku yakin Kiara bisa menemukan yang lebih baik dan ini
hanya tinggal waktu. Suatu saat spesies seperti Yuda akan mengetahui hukum
menanam dan menuai dengan baik. Dan bagiku, ini semua bisa dijadikan pelajaran.
Sebesar apapun rasa suka yang kita punya, logika tetaplah harus berjalan
beriringan. Dan untuk itu, ketika suka jangan suka banget. Biasa saja. Menyukai
dengan wajar, membenci dengan wajar, dan bereaksi dengan wajar. Sehingga tak
perlu ada logika yang lumpuh dan angan-angan yang melambung abnormal. Lagi pula kalau kita renungkan, cintanya itu pasti tidak akan sebesar cinta-Nya. Kenapa mesti sibuk menggalau kalau ada cinta dari yang Maha sempurna...? Bukankah ada yang lebih pasti dari sekedar orang yang saling jatuh cinta yakni takdir kematian yang pasti akan datang menghampiri.
Bukankah
saat kita menjadi sebaik-baiknya makhluk, maka seseorang dengan sebaik-baiknya
diri pun tengah menanti kita? Kalau tidak di dunia, mungkin di akhirat. Tentu kebaikan diri kita akan mengundang cinta
yang lebih berkelas. Dan itu adalaha janji-Nya. Janji yang tak mungkin ingkar, salah, atau meleset.
Senin, 23 Februari 2015
Si Sombong dan Si Licik
Namaku,
Halmahera. Teman-teman biasa memanggilku Ama. Di sekolah aku cukup populer,
dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan segudang prestasi yang cukup
membanggakan. Aku juga banyak dikenal dan disukai oleh para guru. Menurut
mereka, aku murid yang penuh antusias dan sangat aktif dalam kegiatan intra
ataupun ekstra. Meski demikian sebenarnya aku tak memiliki banyak teman dekat.
Lain halnya dengan Tasya. Si cerewet yang satu ini memiliki banyak sahabat, dia
disukai banyak teman karena tingkahnya yang supel dan menyenangkan. Tak hanya
sampai disitu, Tasya pun selalu nyaris menyaingi prestasiku. Jika aku mendapat
juara 1, maka dapat dipastikan ialah juara 2 nya. Dan seperti itu pula, saat
guru-guru memilih aku dan Tasya sebagai kandidat calon ketua OSIS. Dari 8
kelas, dari 10 orang pendaftar, entah mengapa hanya aku dan Tasya yang
terjaring. Jujur, menjadi ketua OSIS bukan ambisiku tapi jika sudah dihadapkan
pada tahap maju atau mundur, aku paling tidak suka mengatakan mundur. Sejak
saat itu, aku bertekad untuk memenangkan pemilihan ketuas OSIS dengan cara
sportif. Aku tidak suka kecurangan, sekecil apa pun itu. Dan Tasya, meski ia
adalah rivalku, aku tetap lebih nyaman menganggapnya sebagai teman baik.
Setidaknya aku bisa berbagi apa yang aku tahu, dan apa yang aku pikir benar.
Hingga
suatu hari, sehabis ulangan tanpa sengaja aku menemukan kertas contekan di laci
meja milik Tasya. Aku sempat bingung dengan secarik kertas itu. Tulisan itu
jelas aku kenal, itu tulisan Tasya. Namun aku juga tak berani menuduh. Kalau
catatan itu bukan dimaksudkan untuk menyontek, lantas mengapa catatan itu
dibuat sekecil mungkin? Tanya ku dalam hati.
Keesokan
harinya saat sedang ulangan matematika, aku menoleh ke arah Tasya. Tak sengaja,
aku melihat Tasya mengambil sesuatu dari laci mejanya, dan BINGO! Dugaanku
sebelumnya adalah benar. Tasya menyontek.
Saat
itu entah mengapa perasaanku pada Tasya berubah. Aku balik tidak menyukainya.
Bagaimana mungkin Tasya melakukan kecurangan seperti itu? Murid sekelas Tasya
menyontek, itu merupakan hal yang memalukan pikirku. Entah mengapa aku merasa
dicurangi. Aku belajar keras untuk mendapat nilai terbaikku, sedang ia malah
mendapatkannya dengan cara yang sangat mudah. Sejak saat itu, aku tak pernah
mau banyak berbicara dengan Tasya. Aku juga merasa Tasya bukan teman baikku.
Teman baik tidak mungkin mencurangi temannya. Ia juga bukan rival yang pantas
untukku.
Hingga
waktu pemilihan tiba, Tasya sempurna terpilih sebagai ketua OSIS dengan suara
mencapi 55%. Aku yang paling tidak suka basa-basi lebih memilih diam tak
berkomentar.
“Kamu nggak akan ngucapin selamat
buat aku, Ma?” tanya Tasya padaku.
“Selamat ya Tasya, semoga kamu
bisa jadi ketua OSIS yang baik.”
“Makasih ya Ma, aku harap kali ini kamu nggak keberatan aku kalahin.”
“Makasih ya Ma, aku harap kali ini kamu nggak keberatan aku kalahin.”
“Sejak kapan aku keberatan kamu
kalahin? Kalau kamu mau dan mampu, silahkan.” Tasya menatapku dengan tatapan
tidak suka dan begitu tatapanku padanya, penuh rasa ketidak sukaan.
“Kalau aku mau, aku pasti udah
kalahin kamu dari sejak lama Ma.”
“Oya? Hehehe jadi sebenarnya kamu
mampu ngalahin aku gitu?Baguslah kalau begitu ayo buktiin. Buktiin kalau kamu
mampu ngalahin aku tentu dengan cara yang pantas dan sportif, ketua presiden
OSIS yang terhormat.”
Waktu berlalu, saat hendak di
bagi raport, tanpa sengaja beberapa teman perempuan tengah asik memperbincangkan
sesuatu.
“Menurut kamu, semester ini siapa
yang akan juara di kelas?” tanya seorang berambut panjang.
“Siapa lagi kalau bukan si
sombong Ama.”
“Ah, mana mungkin! Aku yakin si
Ama kalah sama si Tasya.”
“Kok kamu mikir gitu?”
“Ya iyalah, si Ama boleh lebih
cerdas. Tapi si Tasya itu jauh lebih cerdik.”
“Iya sih kalau itu aku tahu. Yang
satu cerdas tapi belagu. Yang satu nggak belagu tapi cerdik alias cerdas dan
licik.”
“Hahaha.. iya kamu bener
dua-duanya nggak ada yang mending.”
“Iya tapi seenggaknya lah si
Tasya itu masih mau berbagi jawaban sama kita, nggak kaya si sombong Ama.”
“Iya bener setidaknya kita masih
bisa kecipratan untung sama si Tasya.”
Aku
terpaku di tempat mendengar kalimat-kalimat itu. Selama ini aku tidak pernah
menyangka bahwa penilaian teman-teman tentang aku adalah si sombong.
Ya
aku memang tidak begitu suka keramaian, aku tidak suka ikut pergi acara
kongkow-kongkow, party atau semacamnya. Aku cenderung acuh dengan teman-teman
yang hanya akan baik ketika ada butuhnya saja, aku juga cenderung tidak suka
banyak berbicara jika bukan di lingkunganku. Aku akui temanku rata-rata anak
orang kaya, anak-anak dengan prestasi cemerlang. Di saat jam istirahat, aku
lebih suka berada di perpus, ketimbang ngerumpi bersama mereka. Di saat tidak
ada guru di kelas, aku lebih senang memasang earphone dan mengerjakan
latihan-latihan soal dari pada nimbrung dan berbincang-bincang dengan mereka.
Aku juga paling tidak suka memberi contekan. Namun aku tidak pernah menyangka
bahwa aku akan dianggap sombong oleh teman-temanku. Dan lebih tragis lagi
nampaknya mereka lebih berpihak pada si licik daripada si sombong. Ya memang kalau mengikuti aturan langit,
kesombongan sebesar biji zarah akan menyebabkan si sombong tidak akan pernah
mencium bau surga. Namun jika mengikuti aturan bumi, tidak satupun orang
sombong yang dikenai hukuman pidana lain halnya dengan si licik. Kesombongan
bukan tindakan kriminal seperti kelicikan tapi mengapa kesombongan lebih mereka
benci dari pada kelicikan. Bahkan saat mereka dihadapkan dengan pilihan
pemimpin, mereka lebih senang dipimpin oleh si licik dari pada si sombong. Si
sombong yang malang.
Saat aku sibuk dengan pemikiranku, tanpa
sepengetahuanku, Tasya pun mendengarkan apa yang aku dengarkan dari mulut
2 orang itu.
“Sepertinya menjadi si sombong
itu jauh lebih baik ya Ma dari pada si licik.”
Aku mengerutkan keningku tak
mengerti. Bukannya jelas menjadi si sombong itu tidak banyak yang menyukai?
“Setidaknya si sombong tidak akan
pernah merasa dirinya dimanfaatkan dan dibodohi.”
Aku kembali terdiam mencerna
kalimat-kalimat Tasya.
“Aku tidak menyangka orang yang
aku anggap teman, bisa dengan sadis mengatakan bahwa aku si licik yang bisa
dimanfaatkan.”
“Sudahlah Tas, aku juga si
sombong yang tidak punya banyak teman kok. Setidaknya biarpun tampak dibodohi
dan dimanfaatkan, kamu masih punya teman, anggap lah itu sebagai harga sebuah
pertemanan.”
Tasya termenung di depanku. Dalam
diam aku mengakui, pertemanan aku dan Tasya cukup menarik untuk dikisahkan. Dan
di hari berikutnya, aku dan Tasya menjadi teman baik yang benar-benar baik.
Kami tak sungkan saling mengkoreksi dan mengingatkan. Tak ada yang sempurna,
baik aku atau pun Tasya pada akhirnya berusaha untuk lebih baik.
Tasya menghentikan kebiasaannya
menyontek, sedang aku berusaha lebih ramah dan terbuka kepada yang lainnya.
“Jangan pernah menjadi si licik
yang bisa dimanfaatkan! Karena kenyataannya kelicikan ga pernah bikin kamu
lebih hebat dari aku. Kamu hanya berhasil membohongi orang lain tapi tidak
dengan diri kamu.”
“Dan kamu juga jangan jadi si
sombong yang dibenci! Karena kenyataannya tidak memiliki teman itu jauh lebih
menyedihkan dari pada tidak memiliki prestasi.”
“Setidaknya aku ga dimanfaatin,
Tas.”
“Dan setidaknya aku ga kesepian.”
“Hahaha yaa, kalau gitu mari kita
berubah jadi si cerdas yang ga sombong dan ga licik. Sepakat?”
“Sepakat.”
10 tahun setelah hari itu, Tasya
menjadi seorang dokter cantik, muda dan menarik. Tentu dengan pesona kecerdasan
dan kelembutan yang jauh dari kesan licik. Dan aku tumbuh menjadi seorang jaksa
muda, menarik dan penuh wibawa yang
menurut Tasya aku adalah jaksa yang penuh dengan dedikasi.
-Tamat-
Langganan:
Postingan (Atom)
