Hari
itu untuk pertama kalinya aku melihat Kiara menangis. Kiara, sahabatku, gadis
yang malang. Aku tak bisa mendefinisikan kemalangannya, kemalangan yang
sebenarnya menurutku banyak membawa hikmah, andai Kiara mau berpikir ‘waras’.
“Din, besok hari ke 100 aku
jadian sama Yuda. Kita berencana buat ngerayainnya, kamu mau ikut?”
“Boleh, kalian traktir ya?” Aku
tersenyum menggodanya.
Kiara mengangguk semangat. Namun
tak lama dari itu aku melihat Kiara mengangkat telepon. Dari ujung sana ku dengar
suara Yuda sayup-sayup.
“Yaah.. Yuda malah sakit Din,
acara besok di pending deh.”
Setelah
itu pembicaraan kami berganti menjadi pembicaraan tentang tugas-tugas di
sekolah. Aku dan Kiara sama-sama duduk di SMA, kami se-sekolah namun beda kelas.
Rumah kami berdekatan sehingga kami saling mengenal satu sama lain dan bisa
saling berkunjung dengan mudah. Kamar kami pun hanya terhalang dua rumah. Itu
sebabnya, Kiara tak sungkan masuk ke dalam kamarku. Dan aku pun tak sungkan
masuk ke dalam kamar Kiara.
Kiara
sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, tak jarang kami menghabiskan waktu
bersama untuk sekedar kongkow-kongkow, makan, belanja dan segudang aktivitas
cewek yang biasa dijalankan kebanyakan orang.
Kami
bersahabat, tapi sebenarnya sifat kami berbeda. Kiara tipe orang extrovert,
yang bisa dengan mudah bergaul dengan banyak orang. Sedangkan aku tipe orang
introvert, yang sangat selektif dalam memilih banyak hal termasuk teman. Di
sekolah Kiara, gabung dengan tim cheers dan padus, sedangkan aku bergabung
dengan anak-anak karya ilmiah remaja dan remaja mesjid.
Suatu
hari, Kiara bercerita padaku tentang perasaannya. Tentu ini bukan untuk pertama
kalinya Kiara bercerita semacam ini. Aku pun sudah terbiasa menjadi pendengar
setianya. Dia menceritakan betapa jantungnya berdegup, setiap kali ia bertemu
dengan sosok yang ia suka. Betapa senangnya setiap kali ia menemukan sosok itu.
Sosok itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yuda, teman se-SMP-ku yang
kini jadi teman sekelasnya. Entah mengapa Yuda bisa begitu menarik di mata
Kiara hingga Kiara bisa dengan mudah menyukainya. Hampir tiap bertemu, Yuda lah
yang menjadi topik utamanya. Selalu begitu sindrom orang jatuh cinta.
Hingga
waktu berlalu, akhirnya Kiara memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya
terhadap Yuda. Tentu ini bukan saranku. Malah kalau boleh aku menyarankan agar
Kiara tidak jatuh cinta dulu. Agar Kiara bisa fokus dengan belajarnya. Tapi ya
itulah Kiara. Tidak butuh waktu lama, Yuda pun akhirnya menerimanya.
Layaknya
orang yang dimabuk cinta, Kiara selalu mengutamakan Yuda. Bahkan dibandingkan
dengan aku sahabatnya, Kiara selalu lebih mendahulukan Yuda. Sempat aku merasa sebal
namun rasanya itu bukan perasaan yang seharusnya. Bukankah sahabat akan ikut
bahagia, melihat sahabatnya bahagia?
“Din, mau aku antar?” tanya Yuda
suatu hari sepulang sekolah.
“Nggak usah Yud, makasih. Duluan
ya.”
Yuda yang sudah menjadi pacar
Kiara, entah mengapa jadi begitu ‘sok’ akrab terhadapku. Bukan untuk pertama
kalinya, ia menawarkan tumpangan gratis, bahkan tak jarang ia mengirim
pesan-pesan singkat yang tidak perlu aku jawab. Kalimat tanya seperti, lagi apa?
Udah makan atau belum? Dan sekelumit kalimat tidak penting lainnya dari Yuda
yang sering nyasar ke handphoneku. Entah mengapa dari sejak saat itu aku
menduga Yuda spesies buaya darat. Hanya aku belum bisa memastikannya, tapi
kalau benar bagaimana cara aku memberitahukannya pada Kiara? Arghh..
Sepulangnya di rumah, saat aku
tengah merebahkan kepalaku di atas kasur dan tanpa sengaja aku menengok jendela
ke luar. Aku melihat Kiara berjalan keluar dari taxi dengan wajah lesu. Saat
aku telepon, Kiara hanya bilang bahwa ia tadi mendapat nilai ulangan jelek di
sekolah. Setelah itu, Kiara menutup teleponnya.
“Beberapa minggu ini ulanganku
jelek terus, Din.”
“Ya sudah belajar yang semangat
Ki.” Ingin sekali ku katakan, makanya Ki jangan pacaran dulu. Pacaran kan
setidaknya pasti menyita waktu belajarmu. Fokus dulu mengejar impianmu, nanti
kalau memang jodoh pasti nggak akan kemana.Lagian apa kerennya Yuda sih? Aduh
Ki, Yuda itu sepertinya buaya darat, akan lebih baik kalau kemu putus dengannya
Namun kalimat itu hanya berada di ujung lidah, aku kelu saat ingin
mengatakannya.
Dan tepat di hari yang ke 100,
saat Kiara berpikir bahwa Yuda tengah sakit hingga membatalkan rencana mereka,
Kiara menemukan fakta bahwa Yuda tengah membohonginya. Bermaksud untuk
menjenguk Yuda ke rumahnya dan memberi kejutan, malah ia yang balik diberi
kejutan. Kejutan bahwa Yuda sedang tidak sakit, dan malah tengah asik mengobrol
di kafe dekat rumahnya bersama seorang gadis cantik. Menurut Kiara, ia melihat
gadis itu mengusap keringat Yuda dan Yuda balas mengelus pipi gadis itu. Bahkan
Kiara sempat mendengar, Yuda memanggil gadis itu dengan sebutan ‘ayang’.
Sampai disana, aku merasa lega.
Lega karena Kiara menemukan fakta itu sendiri pada akhirnya. Namun di saat yang
sama aku melihat Kiara menitikan air mata.
“Aku ngerasa sesak banget Din pas
lihat Yuda kayak gitu.”
“Udah ya Ki, jangan dipikirin.
Mending kita fokus buat sekolah dulu. In shaa Allah kamu pasti dapat ambil
hikmahnya.”
Keesokan harinya , saat di
sekolah, entah apa yang terjadi aku kembali melihat Kiara berggandengan tangan
lagi dengan Yuda.
“Yuda ngaku salah Din, ternyata
yang kemaren aku lihat itu saudaranya.”
“Kamu yakin?”
“Iya Din. Yuda udah cerita
semuanya sama aku. Katanya itu sepupu Yuda yang baru datang dari Bandung. Itu
sebabnya Yuda pending acara kita kemaren.”
“Tapi bukannya dia bilang dia
sakit?”
“Iya, dia Cuma mau jaga perasaan
aku aja. Dia takut kalau aku ngira lebih mentingin saudaranya dibanding aku.”
Aku hanya bisa menelan ludah,
pasrah.
“Ini Yuda beliin aku coklat
kesukaanku sama kotak musik hati. Kata dia kalau aku kangen dia, aku bisa buka
kotak musik ini sebagai gantinya. Romantis kan Din?”
“Romantis dari mana? Dia itu
habis bohongin kamu Ki. Masa sih kamu ga nyadar?” Akhirnya kalimat itu meluncur
begitu saja dari mulutku.
“Maksud kamu apa sih Din?”
“Semuanya ga masuk akal Din,
alasan Yuda ke kamu itu ga masuk akal. Kalau emang cewek itu saudaranya, bisa
aja kan dia ajak saudaranya itu buat ketemu kamu sekalian ngerayain hari jadian
kalian yang ke 100? Terus kenapa juga dia panggil gadis itu dengan sebutan
ayang, bahkan dia sampai hati bohongin kamu.”
Kiara tercenung mendengar
penjelasanku.
“Bisa aja kan dia pengen punya
waktu khusus buat saudaranya? Atau bisa jadi saudaranya itu pemalu dan ga
pengen diganggu. Bisa aja mereka ngobrolin hal-hal yang sifatnya rahasia
keluarga. Kalau sebutan ayang itu emang sebutan gadis itu di keluarganya karena
dia anak bungsu. Aku percaya Din, Yuda gak mungkin dengan sengaja nyakitin aku.
Aku percaya dia tulus sama aku.”
Kali
ini aku yang tercenung. Aku benar-benar kehabisan kata. Oh god, bagaimana
bisa Kiara berpikir senaif itu. Saudara? Pake elus-elus pipi, lap-lap keringat
bahkan manggil ayang. Saudara macam apa itu?
Entahlah
aku tidak ingin berdebat dengan Kiara. Aku pikir akan ada saatnya dia tahu dan
menyesali kebodohannya. Hingga saat itu tiba, aku harap Kiara sudah menyiapkan
mentalnya. Aku yakin Kiara tahu yang sebenarnya, hanya kini dia tengah asik
membenarkan lamunannya tentang sosok Yuda yang sempurna. Aku bisa apa?
Sebagai
sahabat aku sudah mengingatkannya. Kalau memang menjadi naif adalah pilihannya,
aku tak bisa apa-apa. Mungkin saat ini di dunia Kiara, Yuda lah sosok paling
keren itu. Suatu hari aku yakin Kiara bisa menemukan yang lebih baik dan ini
hanya tinggal waktu. Suatu saat spesies seperti Yuda akan mengetahui hukum
menanam dan menuai dengan baik. Dan bagiku, ini semua bisa dijadikan pelajaran.
Sebesar apapun rasa suka yang kita punya, logika tetaplah harus berjalan
beriringan. Dan untuk itu, ketika suka jangan suka banget. Biasa saja. Menyukai
dengan wajar, membenci dengan wajar, dan bereaksi dengan wajar. Sehingga tak
perlu ada logika yang lumpuh dan angan-angan yang melambung abnormal. Lagi pula kalau kita renungkan, cintanya itu pasti tidak akan sebesar cinta-Nya. Kenapa mesti sibuk menggalau kalau ada cinta dari yang Maha sempurna...? Bukankah ada yang lebih pasti dari sekedar orang yang saling jatuh cinta yakni takdir kematian yang pasti akan datang menghampiri.
Bukankah
saat kita menjadi sebaik-baiknya makhluk, maka seseorang dengan sebaik-baiknya
diri pun tengah menanti kita? Kalau tidak di dunia, mungkin di akhirat. Tentu kebaikan diri kita akan mengundang cinta
yang lebih berkelas. Dan itu adalaha janji-Nya. Janji yang tak mungkin ingkar, salah, atau meleset.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar