Selasa, 24 Februari 2015

Galau? Aku sih No!



            Hari itu untuk pertama kalinya aku melihat Kiara menangis. Kiara, sahabatku, gadis yang malang. Aku tak bisa mendefinisikan kemalangannya, kemalangan yang sebenarnya menurutku banyak membawa hikmah, andai Kiara mau berpikir ‘waras’.
“Din, besok hari ke 100 aku jadian sama Yuda. Kita berencana buat ngerayainnya, kamu mau ikut?”
“Boleh, kalian traktir ya?” Aku tersenyum menggodanya.
Kiara mengangguk semangat. Namun tak lama dari itu aku melihat Kiara mengangkat telepon. Dari ujung sana ku dengar suara Yuda sayup-sayup.
“Yaah.. Yuda malah sakit Din, acara besok di pending deh.”
            Setelah itu pembicaraan kami berganti menjadi pembicaraan tentang tugas-tugas di sekolah. Aku dan Kiara sama-sama duduk di SMA, kami se-sekolah namun beda kelas. Rumah kami berdekatan sehingga kami saling mengenal satu sama lain dan bisa saling berkunjung dengan mudah. Kamar kami pun hanya terhalang dua rumah. Itu sebabnya, Kiara tak sungkan masuk ke dalam kamarku. Dan aku pun tak sungkan masuk ke dalam kamar Kiara.
            Kiara sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, tak jarang kami menghabiskan waktu bersama untuk sekedar kongkow-kongkow, makan, belanja dan segudang aktivitas cewek yang biasa dijalankan kebanyakan orang.
            Kami bersahabat, tapi sebenarnya sifat kami berbeda. Kiara tipe orang extrovert, yang bisa dengan mudah bergaul dengan banyak orang. Sedangkan aku tipe orang introvert, yang sangat selektif dalam memilih banyak hal termasuk teman. Di sekolah Kiara, gabung dengan tim cheers dan padus, sedangkan aku bergabung dengan anak-anak karya ilmiah remaja dan remaja mesjid.
            Suatu hari, Kiara bercerita padaku tentang perasaannya. Tentu ini bukan untuk pertama kalinya Kiara bercerita semacam ini. Aku pun sudah terbiasa menjadi pendengar setianya. Dia menceritakan betapa jantungnya berdegup, setiap kali ia bertemu dengan sosok yang ia suka. Betapa senangnya setiap kali ia menemukan sosok itu. Sosok itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yuda, teman se-SMP-ku yang kini jadi teman sekelasnya. Entah mengapa Yuda bisa begitu menarik di mata Kiara hingga Kiara bisa dengan mudah menyukainya. Hampir tiap bertemu, Yuda lah yang menjadi topik utamanya. Selalu begitu sindrom orang jatuh cinta.
            Hingga waktu berlalu, akhirnya Kiara memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Yuda. Tentu ini bukan saranku. Malah kalau boleh aku menyarankan agar Kiara tidak jatuh cinta dulu. Agar Kiara bisa fokus dengan belajarnya. Tapi ya itulah Kiara. Tidak butuh waktu lama, Yuda pun akhirnya menerimanya.
            Layaknya orang yang dimabuk cinta, Kiara selalu mengutamakan Yuda. Bahkan dibandingkan dengan aku sahabatnya, Kiara selalu lebih mendahulukan Yuda. Sempat aku merasa sebal namun rasanya itu bukan perasaan yang seharusnya. Bukankah sahabat akan ikut bahagia, melihat sahabatnya bahagia?
“Din, mau aku antar?” tanya Yuda suatu hari sepulang sekolah.
“Nggak usah Yud, makasih. Duluan ya.”
Yuda yang sudah menjadi pacar Kiara, entah mengapa jadi begitu ‘sok’ akrab terhadapku. Bukan untuk pertama kalinya, ia menawarkan tumpangan gratis, bahkan tak jarang ia mengirim pesan-pesan singkat yang tidak perlu aku jawab. Kalimat tanya seperti, lagi apa? Udah makan atau belum? Dan sekelumit kalimat tidak penting lainnya dari Yuda yang sering nyasar ke handphoneku. Entah mengapa dari sejak saat itu aku menduga Yuda spesies buaya darat. Hanya aku belum bisa memastikannya, tapi kalau benar bagaimana cara aku memberitahukannya pada Kiara? Arghh..
Sepulangnya di rumah, saat aku tengah merebahkan kepalaku di atas kasur dan tanpa sengaja aku menengok jendela ke luar. Aku melihat Kiara berjalan keluar dari taxi dengan wajah lesu. Saat aku telepon, Kiara hanya bilang bahwa ia tadi mendapat nilai ulangan jelek di sekolah. Setelah itu, Kiara menutup teleponnya.
“Beberapa minggu ini ulanganku jelek terus, Din.”
“Ya sudah belajar yang semangat Ki.” Ingin sekali ku katakan, makanya Ki jangan pacaran dulu. Pacaran kan setidaknya pasti menyita waktu belajarmu. Fokus dulu mengejar impianmu, nanti kalau memang jodoh pasti nggak akan kemana.Lagian apa kerennya Yuda sih? Aduh Ki, Yuda itu sepertinya buaya darat, akan lebih baik kalau kemu putus dengannya Namun kalimat itu hanya berada di ujung lidah, aku kelu saat ingin mengatakannya.
Dan tepat di hari yang ke 100, saat Kiara berpikir bahwa Yuda tengah sakit hingga membatalkan rencana mereka, Kiara menemukan fakta bahwa Yuda tengah membohonginya. Bermaksud untuk menjenguk Yuda ke rumahnya dan memberi kejutan, malah ia yang balik diberi kejutan. Kejutan bahwa Yuda sedang tidak sakit, dan malah tengah asik mengobrol di kafe dekat rumahnya bersama seorang gadis cantik. Menurut Kiara, ia melihat gadis itu mengusap keringat Yuda dan Yuda balas mengelus pipi gadis itu. Bahkan Kiara sempat mendengar, Yuda memanggil gadis itu dengan sebutan ‘ayang’.
Sampai disana, aku merasa lega. Lega karena Kiara menemukan fakta itu sendiri pada akhirnya. Namun di saat yang sama aku melihat Kiara menitikan air mata.
“Aku ngerasa sesak banget Din pas lihat Yuda kayak gitu.”
“Udah ya Ki, jangan dipikirin. Mending kita fokus buat sekolah dulu. In shaa Allah kamu pasti dapat ambil hikmahnya.”
Keesokan harinya , saat di sekolah, entah apa yang terjadi aku kembali melihat Kiara berggandengan tangan lagi dengan Yuda.
“Yuda ngaku salah Din, ternyata yang kemaren aku lihat itu saudaranya.”
“Kamu yakin?”
“Iya Din. Yuda udah cerita semuanya sama aku. Katanya itu sepupu Yuda yang baru datang dari Bandung. Itu sebabnya Yuda pending acara kita kemaren.”
“Tapi bukannya dia bilang dia sakit?”
“Iya, dia Cuma mau jaga perasaan aku aja. Dia takut kalau aku ngira lebih mentingin saudaranya dibanding aku.”
Aku hanya bisa menelan ludah, pasrah.
“Ini Yuda beliin aku coklat kesukaanku sama kotak musik hati. Kata dia kalau aku kangen dia, aku bisa buka kotak musik ini sebagai gantinya. Romantis kan Din?”
“Romantis dari mana? Dia itu habis bohongin kamu Ki. Masa sih kamu ga nyadar?” Akhirnya kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.
“Maksud kamu apa sih Din?”
“Semuanya ga masuk akal Din, alasan Yuda ke kamu itu ga masuk akal. Kalau emang cewek itu saudaranya, bisa aja kan dia ajak saudaranya itu buat ketemu kamu sekalian ngerayain hari jadian kalian yang ke 100? Terus kenapa juga dia panggil gadis itu dengan sebutan ayang, bahkan dia sampai hati bohongin kamu.”
Kiara tercenung mendengar penjelasanku.
“Bisa aja kan dia pengen punya waktu khusus buat saudaranya? Atau bisa jadi saudaranya itu pemalu dan ga pengen diganggu. Bisa aja mereka ngobrolin hal-hal yang sifatnya rahasia keluarga. Kalau sebutan ayang itu emang sebutan gadis itu di keluarganya karena dia anak bungsu. Aku percaya Din, Yuda gak mungkin dengan sengaja nyakitin aku. Aku percaya dia tulus sama aku.”
            Kali ini aku yang tercenung. Aku benar-benar kehabisan kata. Oh god, bagaimana bisa Kiara berpikir senaif itu. Saudara? Pake elus-elus pipi, lap-lap keringat bahkan manggil ayang. Saudara macam apa itu?
            Entahlah aku tidak ingin berdebat dengan Kiara. Aku pikir akan ada saatnya dia tahu dan menyesali kebodohannya. Hingga saat itu tiba, aku harap Kiara sudah menyiapkan mentalnya. Aku yakin Kiara tahu yang sebenarnya, hanya kini dia tengah asik membenarkan lamunannya tentang sosok Yuda yang sempurna. Aku bisa apa?
            Sebagai sahabat aku sudah mengingatkannya. Kalau memang menjadi naif adalah pilihannya, aku tak bisa apa-apa. Mungkin saat ini di dunia Kiara, Yuda lah sosok paling keren itu. Suatu hari aku yakin Kiara bisa menemukan yang lebih baik dan ini hanya tinggal waktu. Suatu saat spesies seperti Yuda akan mengetahui hukum menanam dan menuai dengan baik. Dan bagiku, ini semua bisa dijadikan pelajaran. Sebesar apapun rasa suka yang kita punya, logika tetaplah harus berjalan beriringan. Dan untuk itu, ketika suka jangan suka banget. Biasa saja. Menyukai dengan wajar, membenci dengan wajar, dan bereaksi dengan wajar. Sehingga tak perlu ada logika yang lumpuh dan angan-angan yang melambung abnormal. Lagi pula kalau kita renungkan, cintanya itu pasti tidak akan sebesar cinta-Nya. Kenapa mesti sibuk menggalau kalau ada cinta dari yang Maha sempurna...? Bukankah ada yang lebih pasti dari sekedar orang yang saling jatuh cinta yakni takdir kematian yang pasti akan datang menghampiri. 

Bukankah saat kita menjadi sebaik-baiknya makhluk, maka seseorang dengan sebaik-baiknya diri pun tengah menanti kita? Kalau tidak di dunia, mungkin di akhirat. Tentu kebaikan diri kita akan mengundang cinta yang lebih berkelas. Dan itu adalaha janji-Nya. Janji yang tak mungkin ingkar, salah, atau meleset.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar