Jumat, 27 Februari 2015

Mengeluh itu Nggak Banget



Kantin ramai seperti biasanya. Di pojok sebelah kanan, tepat disamping jendela Rani dan ketiga teman lainnya sedang asik berbincang. Sambil menyantap hidangan makan siang, mereka tak henti-hentinya membicarakan rencana liburan akhir semester yang tinggal menghitung hari. Tak selang beberapa lama, Ayu menghampiri ke-empat temannya dengan wajah memberenggut.
“Bete deh gue, masa iya tadi tuh ya Si Riko nyenggol gue ampe jatuh. Gue kan malu dilihat sama anak-anak kelas X.” Sahut Ayu tiba-tiba.
“Ah mungkin ga sengaja kali Yu.” Timpal Nita berusaha menenangkan.
“Iya tapi tetap aja kalau jalan tuh dia harusnya pake mata, lagian suruh siapa sih dia lari-lari di koridor sekolah.”
“Ya udah loe maafin aja, Tuhan aja Maha Pemaaf masa kita hamba-Nya ga mau maafin orang sih Yu.” Akhirnya Rani buka suara yang langsung disetujui oleh tiga teman lainnya yang kebetulan tadi sedang asik mengobrol.
“Ah, loe sih gampang ngomong gitu soalnya loe ga ngerasain. Coba kalau loe jadi gue.” Ayu masih saja memberenggut dengan mukannya yang masam. Tak lamabel pun berbunyi menandakan waktu istirahat sudah berakhir. Masing-masing dari mereka berhamburan menuju kelas. Di sisa jam terakhir, Ayu melirik Rani teman sebangkunya.
“Gue bete deh, pelajaran Bu Isma itu pasti bikin ngantuk.”
Tanpa banyak basa-basi Rani menyodorkan permen yang ada di sakunya dengan harapan Ayu akan berhenti mengeluh.
“Ah, nggak deh Ran. Gue ga suka permen kopi gini, ga enak.”
“Ya udah loe cuci muka aja sana.”
“Gue males. Cuci muka di toilet sekolah tuh bau, bikin gue pengen muntah.”
“Rani, Ayu kalian maju ke depan.” Tiba-tiba saja Bu Isma memanggil keduanya. Mereka diminta untuk menerangkan kembali apa yang mereka dapatkan hari ini. Sepertinya Bu Isma mendengar mereka mengobrol di kelas. Setelah keduanya menerangkan kembali, Bu Isma berpesan kepada keduanya untuk bisa menghargai orang yang tengah berbicara.
Sepulangnya dari sekolah, Ayu berjalan berdampingan dengan Rani yang kebetulan rumahnya saling berdekatan. Dalam hati Rani sudah merasa jengkel dengan sikap Ayu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
“Gue ga nyangka, guru kaya Bu Isma yang suaranya nyaris tak terdengar itu bisa juga ya marah dan mnghukum kita?” Sahut Ayu membuka pembicaraan.
Rani hanya diam tak berkomentar. Tiba-tiba Nita datang dari arah sebrang, dan dengan riang ia mengajak Ayu dan Rani untuk mampir ke rumahnya yang tak jauh dari sekolah.
“Aduh jalanannya panas banget, gue bingung kenapa ya bulan september gini belum musim hujan juga.”Keluh Ayu ketika tawaran itu datang seolah ia tengah menolak untuk diajak jalan kaki dan mampir ke rumah Nita.
“Ya loe kalau mau dingin pasang Ac berjalan aja.” Jawab Nita sembari membawa ranselnya.
“Gue mau Nit, ke rumah loe.” Jawab Rani seketika dengan maksud untuk menghindari Ayu. Mood sedang jelek, jadi ia tidak ingin memperparah moodnya dengan mendengarkan keluhan Ayu sepanjang jalan.
“Yaaah loe Ran, kan ini panas banget masa iya sih harus ke rumah Nita dulu. Kita pulang aja yuk?” desak Ayu pada Rani.
“Kalau loe ga mau ikut, loe bisa kok pulang duluan.” Jawab Rani cuek.
Keesokan harinya, saat Ayu memasuki kelas ia keheranan mendapati Rani yang sudah pindah duduknya di meja paling depan.
“Ran, kok loe pindah sih?”
“Gue mau duduk di depan.”
“Kenapa?”
Karena males banget kalau gue mesti dihukum lagi sama guru gara-gara dengerin keluhan loe yang ga ada ujungnya.
“Ran, kok loe malah ngelamun sih?”
“Nggak, gue ga ngelamun.”
“Ooh.. Ran, loe tahu ga ya gue bete banget tahu tadi pas naik angkot eh angkotnya malah ngetem. Lama banget, untung gue ga kesiangan.” Ceracau Ayu sambil memindahkan tasnya untuk duduk di sebelah Rani.
“Oya?”
“Iya, dan lebih nyebelin lagi pas tadi gue jalan gue ketemu si Riko di koridor. Dan dengan ekspresi innocent gitu dia nyapa gue.”
“Oya?”
“Iya, padahal gue masih berasa malunya gara-gara kemaren dia senggol ampe jatuh.”
Rani hanya diam tak menanggapi. Ekspresi mukanya datar seolah ingin menunjukan ketidak tertarikannya terhadap topik yang dibicarakan oleh Ayu. Sayangnya, Ayu tak menyadari itu. Ia kembali berbicara dengan keluhannya yang lain. Keluhan yang sebenarnya tak perlu ia keluhkan, keluhan yang membuatnya terlihat menyebalkan di hadapan teman-temannya.
 “Ran, pulang sekolah kita main yuk?”
“Nggak ah, Yu. Gue mau pulang ke rumah.”
“Please Ran.”
“Nggak Yu, gue mesti cepet pulang.”
“Gue bete deh sama loe, loe jadi gak asik sekarang-sekarang.” Ucap Ayu pada Rani ketus.
“Bukannya dari dulu loe selalu bete sama semua hal?” Jawab Rani balik sebal.
“Maksud loe?”
“Loe pikir aja sendiri.”
Ayu yang mendengar kalimat itu mendengus kesal berlalu meninggalkan kelas. Saat di halaman parkir, Ayu mendengar perbincangan Tia dan Nita.
“Iya Ti, kita langsung ke rumah Rani aja. Gue dengar papa Rani sakit stroke jadi buat menghibur dia, mending kita ke rumahnya aja langsung.”
“Iya, kita beli apa ya buat papanya Rani?”
“Papa Rani sakit?” Akhirnya Ayu menyela pembicaraan kedua temannya.
“Iya, emang loe ga tahu?” tanya Tia.
“Nggak, Rani ga pernah cerita.”
“Gimana Rani mau cerita, kalau loe sendiri lebih sibuk ngeluh.” Ucap Nita.
 “Sibuk ngeluh gimana maksud loe?” Tanya Rani dengan nada sewot.
“Loe tuh selalu sibuk ngeluh sama banyak hal. Bete inilah, bete itulah. Loe sibuk sama diri loe sendiri, seolah loe yang paling menderita di muka bumi ini. Padahal di luar sana, bahkan di samping loe, sahabat loe sendiri, punya masalah dan beban yang lebih berat dari loe.”
Ayu terhenyak mendengar kalimat temannya. Tia yang melihat raut wajah Ayu, langsung mendekatinya. “Udah loe jangan matung, mending ikut kita jenguk papanya Rani.”
Ayu manggut dan mengikuti langkah Nita dan Tia menjenguk papa Rani. Di rumah Rani, Ayu meminta maaf pada Rani. Meminta maaf untuk segala keegoisannya.
“Maafin gue ya Ran. Gue ga tahu, kalau ternyata loe punya beban yang lebih berat dari gue. Gue minta maaf buat keegoisan dan segala keluhan gue yang ga penting selama ini. Gue sadar, kenapa gue ga punya banyak teman. Karena gue selalu mengeluh dan lupa bersyukur. Lebih sering bilang, gue bete dibandingkan gue bersyukur.”
“Gak apa-apa Yu. Gue juga minta maaf ya karena selama ini gue ga pernah berani buat negur loe. Gue ga bisa jadi sahabat yang baik buat loe, mestinya gue ngingetin loe.”
“Udah-udah kalian jangan lebai, ah.” Sahut Nita
“Haha iya, kalian sok cantik banget.” Sahut Tia kemudian.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
"Harusnya dari awal gue bersyukur, karena gue punya kalian." ucap Ayu.
Bukankah sahabat yang baik itu sahabat yang selalu mengingatkan sahabatnya untuk senantiasa berada dalam kebaikan? Tidak ada manusia yang terlahir sempurna meski demikian, kita tetap memiliki kewajiban untu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Karena mengeluh bukan solusi, maka bersabar dan bersyukur menjadi jawabannya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar